Peristiwa itu terjadi sejak beberapa tahun yang lalu,berawal
disebuah jembatan pertama kali ku mengenalnya. Seorang lelaki asing memegang
sebuah buku, terlihat didalam dirinya seolah melekat kewibawaan yang
memancarkan ketenangan disekilingnya.
Ku mendekat, dan bertanya dengan lembut “Buku apa yang sedang
dibaca?”.
“Kalau tidak salah kamu anak pemegang kunci perpustakaan
sekolah, yang baru tiba siang tadi?” Jawabnya sambil tersenyum melihatku.
“Apakah Ayahku seorang penjaga perpustakaan? Mengapa tak
menjawab pertanyaanku mengenai buku itu?”
“Ah,. Bukan... ayahmu hanya merangkap sebagai pemegang kunci
perpustakaan tetapi bukan penjaga sehari-harinya. Ini buku cerita yang baru ku
pinjam tadi pagi. Bolehkah ku tau siapa namamu? Sepertinya seumuran dengan
adikku.”
“Namaku Khasanah, apakah adikmu yang bernama Rasyid? Berarti aku
harus memanggilmu dengan sebutan kakak.”
“Rupanya kau telah berkenalan dengannya, namaku Abdul Fauzhil
kau bisa memanggilku dengan sebutan Uzhi. Adikku sendiri tak memanggilku dengan
sebutan kakak, tetapi akan lebih baik bila ada sedikit pangkat didepannya,
mengingat aku lebih tua darimu hehe”
Aku terkejut melihatnya tertawa, seolah tak percaya dengan apa
yang kulihat. Ku rasa ku menyukai sosoknya yang ramah.
Sejak saat itu ku mulai memperhatikan semua yang ia lakukan. Ya,
semuanya. Tak khayal semua hobi, barang yang disuka sampai permainan ku ikuti.
Bertambahnya waktu, rasa sukaku kian bertambah dan pada akhirnya
menyadari hal ini hanyalah sebatas rasa kekaguman.
***
“Khazanah, aku akan pindah keluar desa” ungkapnya suatu hari
“Mengapa demikian? Apakah masa kerja Ayah kakak telah selesai?
“Ini saatnya keluargaku untuk keluar dari desa ini, tidakkah
engkau mengetahuinya sangatlah susah bagi pekerja seperti Ayah-ayah kita untuk
pindah dari desa ini?”
“Apa yang salah dengan desa ini ka’ Uzhi?, Aku tidak mengerti
bukannkah selama ini ka” Uzhi sangat
senang tinggal disinni dan aku berfikir semuanya merasa tentram”
“Khazanah, kau tidak akan mengetahui dunia luar karena semakin
lama tinggal disini maka semakin terisolasilah dari dunia luar, tidak ada
satupun yang mau menggantikan pekerjaan seperti pekerjaan ayah-ayah kita,
karena disini adalah desa yang sangat terpencil. Sebagian penduduk hanya
lulusan SD tak lebih karena disini tak ada sekolah lanjutan, dan bila ingin
melanjutkan keluar sangatlah sulit karena taraf kelulusan sangat rendah dan
susahnya untuk menyesuaikan.”
“Apakah kelanjutan ka” Uzhi sekolah juga merupakan alasan kakak
untuk pindah?”
“Iya,” Jawabnya tenang tanpa sedikitpun menoleh.
Aku terdiam sesaat, lalu menatapnya. Agak lama ku
memperhatikannya dengan seksama, kemudian aku berkata “Apakah kita bisa bertemu
lagi?”.
“Khazanah!” Sontak ka” Uzhi bangkit lalu menceburkan diri
kelaut.
Aku menunduk sedih, bukan karena dia yang sebentar lagi akan
pergi, tetapi sedih karena akan kehilangan sesosok orang yang ku kagumi dan
menjadi panutanku.
Pada waktunya tiba, dinihari aku mencuri pandang kewajahnya.
Kulihat wajahnya tetap memancarkan ketenangan. Ia menggunakan kemeja berwarna
abu-abu serta celana kain berwarna
hitam. Sejurus kemudian Ia mendekat dan meraih tanganku memberikan pelita kecil
yang terbuat dari botol minyak telon, seraya berkata “Ingatlah aku seperti kau
yang selalu menyalakan pelita setiap malam diluar rumah,entah aku tak mengerti
maksud dan tujuanmu. Tapi tanpa kau sadari ku selalu memperhatikanmu dan sejak
saat itu aku ingin selalu menjadi pelita untukmu”.
Terus terang aku tak tahu harus menjawab apa, dan kuputuskan
untuk diam.
Jarak telah menyekatku dengannya, inilah saat-saat aku merasa
kesepian. Sebelumnya hari-hariku selalu ditemani dengannya entah hanya untuk
bermain ataupun belajar serta membaca buku cerita bersama-sama.
Aku mengakui, kedekatanku dengan ka” Uzhi melebihi kedekatanku
dengan Rasyid walaupun jarak umur kami berbeda. Walaupun seumuran dengan Rasyid
tapi aku merasa tak cocok dengannya.
Hal ini yang menyebabkanku merasa sangat sedih kehilangan ka”
Uzhi dibandingkan dengan kehilangan Rasyid yang sama-sama pergi dari
kehidupanku.
***
Satu tahun kemudian, aku pindah dari desa terpencil itu alasan
yang sama dengan yang diungkapkan oleh ka” Uzhi dan alasan kelanjutanku sekolah
dijadikan sebagai kebebasan untuk pindah pekerjaan bagi Ayahku. Tidak semua
bisa seperti ini, pindah hanya dengan alasan tersebut, tetapi secara kebetulan
Ayah memang pada dasarnya dimutasi kekota.
Tak terbersit dalam benakku, dia akan kembali dikehidupaku.Hal
ini dikarenakan ku telah bertahun-tahun tak melihatnya sekitar tiga belas tahun
telah berlalu tanpa mengetahui kabar apapun darinya.
Benar-benar tak ada kontak setelah kepergiannya, dan aku
berfikir ia hanyalah segelintir orang yang datang sejenak untuk mengisi sedikit
kepingan dikehidupanku.
Sore itu, kampusku digemparkan oleh berita yang tersiar melaui
mulut kemulut, seoarang lelaki yang dikabarkan merupakan dosen termuda di
universitas tempatku kuliah dan ia merupakan salah satu dosen yang menjadi
dosen tetap salah satu prodi yang sama denganku. Lelaki itu sungguh misterius,
aku sama sekali tak mengetahuinya karena pada dasarnya aku sama sekali tak
pernah bertemu ataupun dia mengajar mata kuliah dikelasku, dan ku rasa akupun
tak ingin terlalu cepat mengetahuinya karena suatu saat aku pasti akan
mengenalnya seperti dosen-dosen yang lainnya. Tetapi tak tahu mengapa hanya
saja aku merasakan dadaku bergetar hebat manakala aku mendengar teman-temanku
berbicara mengenainya.
Setelah selesai kuliah, aku berdiri dari tempat duduk dan
bergegas ingin segera sampai dirumah. Tetapi belum sempat keluar ruangan ku
melihat sesosok yang ku dambakan sejak dulu berada dihadapanku tersenyum dan
mendekat kearahku. Aku bingung memandangnya, apakah ini hanya mimpi atau ini
hanya ilustrasi semata seperti fatamorgana ditengah-tengah padang pasir.
“Apakah masih mengingatku?”
“Ka” Uzhi” kataku seraya tak percaya.
“Heyy,. Sangatlah tidak sopan kau memanggilnya dengan sebutan
itu, dia adalah dosenmu nanti” sahut wanita cantik yang tepat berada
disampingnya.
Aku terkejut mendengarnya, ku menatapnya dan tersenyum sendiri
seraya berkata dalam hati “salahku tak memperhatikan disekilingku, karena
terpusat pada ka” Uzhi”
“Maaf, tetapi aku tak mengetahui bahwa ia adalah seorang
dosen,karena yang ku ketahui dia adalah teman kecilku dulu”
“Tak mengapa, aku juga sebenarnya lelah dipanggil dengan sebutan
dosen, Wah sangat lama kita tidak bertemu, apakah selama ini kau baik-baik
saja? Bagaimana dengan kuliahmu apakah lancar?”
Belum smpat ku menjawab pertanyaanya, wanita cantik tadi berkata
“Sudah saatnya kita pergi, aku takut nanti kita tak mendapatkan
gedung yang kita inginkan. Berbicara dengannya bisa dilanjutkan dilain waktu”
“Baiklah Khazanah, sampai bertemu dilain waktu simpan
pertanyaanku dengan baik. Kelak aku akan menagih jawabannya kembali” sambil
tersenyum ia berpaling dan meninggalkanku.
Betapa menyenangkannya bisa bertemu lagi dengannya, kini ku
seperti mendengar nyanyian yang mengalun dari segala penjuru.
Beberapa waktu kemudian ku kembali menjalani komunikasi yang
sempat terhenti sekian lamanya, walaupun status dosen dengan mahasiswa tak
menjadi penghalang untuk saling berbicara, memahami dari hati ke hati.
Sama-sama faham untuk saling menghormati dan tetap sadar pada posisi
masing-masing.
“Khazanah, berkali-kali aku kembali kedesa. Tetapi engkau tak
penah memperlihatkan sedikitkpun padaku. Sungguh aku hanya ingin bisa kembali
kemasa-masa yang lampau kembali bersama denganmu dan sempat ku berfikir untuk
bisa menjalin ikatan suci denganmu”
Aku terperangah, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja
terbersit melalui kata-katanya terhadapku.
“Apa yang ka” Uzhi katakan?, dan apa maksud dari perkataan itu?
Ku lihat ka” Uzhi terdiam serta menunduk,kembali ia menatapkuu
tapi tak sepatah katapun yang ia sebutkan pastilah pertanyaanku sangatlah sulit
untuk ia jawab.
Tak berselang lama ia berdiri dan pergi meninggalkanku sendiri
di tepi taman dan berkata “Kelak kau akan tahu yang sebenarnya”.
Aku menyenuluri taman, disalah satu sudut ku berjumpa dengan
Rasyid, ia benar-benar Rasyid aku masih ingat dengan wajahnya. Tanpa berfikir
panjang, bergegaslah aku menemuinya.
“Rasyid, lama tak melihatmu?” Aku tersenyum melihatnya
“Apa yang kau lakukan disini? Kau kembali menemui dia? Sahutnya
dengan ketus
“Dia? Dia siapa? Aku tak ,mengerti apa yang kau bicarakan”
“Aku memperhatikanmu sejak lama,dan seperti neraka bagiku
kembali melihatmu dengannya. Bahkan saat iini aku tak sudi melihatmu!”
“Apa yang salah denganku Rasyid?, megapa kau membenciku? Apakah
ka” Uzhi yang kau maksud dengan sebutan dia” Aku masih tak mengerti
“Karena sejak dulu kau tak pernah mengindahkanku, kau hanya mau
bergaul dengannya tetapi denganku tidak!”
“Apakah kau cemburu?”
“Bagaimana mungkin aku cemburu terhadapmu, sudahlah!” Ia
beranjak dari tempatnya
Dan aku berusaha mati-matian mendekatinya, meminta penjelasan
kembali. Terus memanggil namanya tanpa lelah, namun semua sia-sia.
Aku menangis bersama deraian air hujan yang menyelimuti tubuhku,
aku berteriak bersama dengan kerasnya alunan gemuruh. Aku bingung, kecewa tiada
terkira “Apa yang ku lakukan selama ini?” sehingga Rasyid terlihat sangat membenciku.
Minggu pagi, aku keheranan melihat ka” Uzhi telah berkunjung
kerumahku membawa sebuah kotak berbungkus kertas kado berwarna pink, kutebak
isinya pastilah sebuah oleh-oleh yang dibawanya dari negeri jiran beberapa
waktu yang lalu.
“Apa ini?”
“Uraian-uraian yang sebenarnya, tak perlu kamu ketahui tetapi
itu semua ukiranku selama ini”
“Ukiran? Ku rasa kau tak memiliki hobi seperti itu”
“Kau akan segera mengetahhuinya, seperti yang ku katakan
beberapa waktu yang lalu, tapi kau tak boleh melihatnya kecuali kau benar-benar
sudah tak melihatku lagi”
“Lagi-lagi aku harus mendengar sesuatu yang tak ku mengerti”
“Itulah hal yang membuatmu disayangi oleh orang disekitarmu”
Seraya mengusap kepalaku,
Seperti biasa ia kembali tersenyum dan berlalu
Aku tak sabar ingin membuka bingkisan itu, tetapi aku harus
mengikuti apa yang dikatakannya, ku letakkan bingkisan disamping pelita kecil
buatannya dulu didalam lemari.
Terdengar suara bising yang berasal dari ranjang mungilku, ku
bergegas dan melihat ternyata terdapat nomer baru yang menelponku.
“Hallo, ini dengan siapa?”
“Tak usah bersikap ramah padakku!”
Jawabannya membuatku terkejut, tetapi aku segera menguasai diri
jangan sampai aku mengeluarkan kata-kata yang tak seharusnya diungkapkan.
“Maaf ada kepeluan apa?”
“Sudah ku katakan padamu jangn menemui dia lagi!”
“Rasyid, kau seperti Mafia yang menerorku”
“Bagaimana kau tahu kalau ini aku? Kau mengetahui nomerku?
“Aku hanya hafal suaramu”
“Huhh.. ku fikir kau tahu nomerku! Tidakkah kau sadar kau melukaiku!”
“Huhh.. ku fikir kau tahu nomerku! Tidakkah kau sadar kau melukaiku!”
“Aku? Melukaimu?”
“Yeaa,.”
“Apa yang membuatmu merasa terluka, ku rasa aku tak pernah
berbuat kasar padamu kecuali memang kamu yang sejak dahulu bersikap kasar
padaku”
“Itu terjadi atas sikapmu sendiri”
“Aku minta maaf bila ku yang memulai duluan, tetapi bisakah kau
bersikap ramah padaku seperti awal kita brkenalan”
“Tidak untuk saat ini, bila kau masih tetap bersamanya”
“Rasyid, ia adalah kakakmu bagaimana mungkin kau bersikap
seperti ini padaku padahal aku hanyalah berteman dengannya”
“Keterkaitanmu melebihi hubunganku dengannya, tidakkah kau
smenyadari hal itu?”
“Aku harap bisa bertemu denganmu”
“Temui aku esok ditepipantai, selepas kau selesai kuliah”
“Temui aku esok ditepipantai, selepas kau selesai kuliah”
“Baiklah”
Dengan secara tiba-tiba dia menutup telfonku tanpa adanya salam
penutup, yah tak mengapa makan tanpa makanan penutup bagiku pun tak masalah
apalagi dengan telpon.
***
“Ada apa sebenarnya?”
tanyaku padanya
Rasyid nampak terlihat panik, dan tak mau melihatku.
“Bisakah, kau berbicara?”
“Kau fikir aku bisu”Ungkapnya galak
Terlihat ia mulai menjauhiku, aku berusaha menyusulnya
“Ku fikir kau akan menjawab pertanyaanku”
“Iya!! Dasar tak sabaran”
“Tidakkah kau berfikir untuk berbicara secara baik-baik? Tidak dengan kasar seperti ini.”
“Iya!! Dasar tak sabaran”
“Tidakkah kau berfikir untuk berbicara secara baik-baik? Tidak dengan kasar seperti ini.”
Kembali ia tak memberikan komentar apapun kesabarnku sudah tak
tersisa, aku bergegas meninggalkannya.
Ia mencengkram tanganku, dan aku melepaskan cengkramannya
“Kalau kau hanya mempermainkanku untuk apa ku berdiam diri disini”
“Kalau kau hanya mempermainkanku untuk apa ku berdiam diri disini”
“Maafkan aku?” berkata dengan suara bervolume rendah, nyaris tak
terdengar.
“Aku, memakluminya, mungkin karena kau sedang mengalami masalah”
“Aku hanya tak bisa menyesuaikan diri bila didekatmu”
“Haha,. kau lucu sekali” Aku tertawa lepas, saat aku melihatnya
ia mulai menampakkan muka masamnya.
“Baiklah, aku tak akan tertawa, ada apa denganku?”
“Entahlah aku hanya tak bisa mengontrol diriku saat bertemu
denganmu”
“Kau menyukaiku ya?” Bercanda dengan senyum menggoda
“Akh, tak mungkin! untuk apa aku menyukaimu, kau tak pantas
untukku” Menjawab dengan kasar
Hmm,. kembali aku harus menyesuaikan telingaku agar tak pecah.
“Syukurlah, aku juga tak mungkin mau denganmu”
“Hey! Apa yang kau bicarakan, aku lebih baik dari Uzhi hanya
saja kau selalu melihat kelebihannya. Aku tahu aku tak lebih cerdas darinya
tapi setidaknya aku melebihi kemampuan yang lebih bagus darinya”
“Lagi-lagi kau selalu menyangkut pautkan dengannya, terlihat
sekali kau cemburu”
“Oh, ti, tidak” ia menjawab dengan terbata-bata dan terlihat
sangat gugup
Rasyid, katakan apa yang harus kau katakan jangan kau mengulur waktu terlalu lama, ini sudah terlalu sore dan aku harus segera kembali kerumah.
“Khazanah” ia memanggilku. Baru kali ini ku mendengar dia
menyebutkan namaku biasanya ia hanya menggunakan kata “Kamu”.
“Iya apa yang ingin kau bicarakan?”
“Aku tak ingin kau bersama dengan Uzhi karena aku.. aku..”
“Kenapa denganmu?”
“Aku hanya ingin kau tak bersama pria jelek itu!!” berlari ia
dari hadapanku.
“Hey, lagi-lagi kau seperti ini!” Teriakku dengar sangat keras.
Tersenyum ku melihatnya berlari dikejauhan dan aku kembali
teringat yang lalu, sepotong surat yang tak pernah ku baca telah terpaut di
ruang guru wali kelasku, dan itu surat darinya.
***
Sebentar lagi aku wisuda, ku fikir selama kuliah aku akan
bertemu dan diajarkan oleh ka” Uzhi rupanya tidak. Karena kemarin ku hanya
berfokus pada pengujian skripsi aku tak sempat memikirkan ataupun bertemu
kembali dengannya.
“Ka” Uzhi, sedang apa disini?” Ku menyapanya dengan tiba-tiba
saat ku tak secara sengaja melihatnya
“Oh, aku hanya menemani Azizah”
“Azizah? Apakah dia wanita yang waktu itu?
“Iya” ia tak menfokuskan
penglihatannya padaku, ia hanya menunduk.
Aku melihat Azizah dari kejauhan menggunakan pakaian pengantin
wanita, aku terpesona melihat kecantikannya. Dan disitu aku mulai tersadar dua
kata yang ada di kepalaku “Gedung serta pakaian pengantin” akankah mereka akan
menikah?
Aku hampir menangis, entah ada perasaan sedih yang kurasakan. Ku
menatap ka” Uzhi, iapun ternyata juga menatapku. Ia membisu sekuat tenaga ku
menahan air mataku, tanpa sadar ku telah menjauhi dan meninggalkannya.
Perasaan apakah ini? tak mungkin aku menyukainya aku rasa perasaanku selama ini hanya kekaguman.
Malamnya aku menangis tersedu-sedu, tak lagi aku memikirkan hari
esok dimana esok adalah hari wisudaku, orang tuaku berfikir aku menangis haru
karena baru saja mendapat surat panggilan bekerja tanpa test disuatu lembaga
pendidikan. Tidak aku tak memikirkan itu semua, aku hanya memikirkan ka” Uzhi.
Seminggu setelah kejadian itu, ku tak bersemangat melakukan
apapun seperti dahulu awal ku ditinggalkan, didalam benakku ini hanya
sementara.
Orang tua ka” Uzhi beserta Rasyid datang kerumah, tak kulihat
ka” Uzhi mereka memberitahukan bahwa sebulan lagi pernikahan ka” Uzhi dengan
Azizah dan meminta keluargaku untuk turut membantu proses acara.
Aku meminta izin untuk kekamar karena alasan kurang enak badan,
sesampai dikamar tak kuasa ku menahan diri lagi tangisku meledak.
“Khazanah” terdengar ada yang memanggilku
“Apa maumu?”
“Aki ingin berbicara sesuatu padamu”
“Saat ini?”
“Iya,”
“Bicaralah”
“Didepan pintu seperti ini? tak bisakah kau keluar?”
“Tidak”
“Uzhi menyukaimu”
Sekuat tenaga ku menhan tangisku agar tak terdengar Rasyid
“Kenapa kau mengataknnya?”
“Karena aku menyukaimu”
“Untuk apa?”
“Aku tak ingin kau lebih terluka melebihi saat ini”
“Aku tidak terluka”
“Kau sangat terluka, ku tahu kau menyukainya”
“Aku tak menyukainya, aku hanya kagum itu saja”
“Kau tak bisa menyembunyikannya”
“Aku tak menyembunyikannya”
“Kau berbohong, kau tahu ia tak memiliki waktu yang lama setelah
pernikahannya ia memiliki kanker hati yang cukup parah”
“Kau yang berbohong”
“Aku tak pernah berbohong padamu”
“Terserah kau ingin berbicara apa”
“Ia menginginkan kau segera melupakannya, demi kebaikkanmu, ia
menikah hanya agar kau bisa kecewa dan melupakannya.”
Aku membuka pintu dan memeluk Rasyid
“Aku sangat menyukainya Rasyid” itu kesimpulan yang kuambil dari
pemikiran panjangku. Ya aku menyukainya bukan hanya sekedar kagum.
Seminggu sebelum pernikahannya, ka” Uzhi jatuh sakit dan
dilarikan kerumah sakit terdekat. Karena tak mampu untuk menanganinya esoknya ia
diterbangkan keluar negeri tepatnya di jerman.
Setiap sore ku menatap laut ditemani Rasyid, itu salah satu yang
ku lakukan untuk menenangkan hati dan fikiran. Tak lupa menjelang senja ku
tetap menyalakan pelita suatu kebiasaanku yang selama ini diperhatikan ka”
Uzhi, tepat pelita memyala Rasyid mendapat telpon dari Ayahnya yang mengatakan
ka” Uzhi meninggal. Terduduk lemas ku mendengarnya.
Ku membuka kotak pemberiaan ka” Uzhi ternyata terdapat sebuah
buku harian berisikan perasaanya selama ini. Dan aku mengetahinya sekarang. Hal
yang tak pernah terungkap hanya saat kematiannya.
“Ka” Uzhi aku menyukaimu” bisikku dipusaranya.
Sebulan setelahnya aku menolak pinangan Rasyid dan ia
memaklumiku karena ku masih merasa berat kehilangan ka” Uzhi.
Hingga saat ini ku masih dalam kesendirian, dan hanya selalu
mengingat kejadian yang lalu. Hingga sampai seseorang datang yang bisa
menggantikanya.
by. LA