Kami tetap berdiri melaksanakan upacara.
Namun, tiada siswa siswi di tengah-tengah kami.
Kami tetap berdiri menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, namun tidak ada tiang bendera merah putih untuk di kibarkan.
Bukan...
Ini bukan karena kami tak cinta negeri ini.
Kami tetap cinta walau tanpa bendera yang dikibarkan.
Cuaca pagi ini cerah
Namun kulihat mendung di wajah sang pembina
Walau tak kuat membendung air mata
Suara beliau tetap tegar dan tanpa getar
Amanat dengan lantang disampaikan
Mengundang tangis dan pilu bagi yang mendengar
Ah...
Sebenarnya aku juga berusaha tegar
Setelah beberapa pekan mengajar seakan kembali ke masa pandemi
Berusaha kuat
Memberi semangat kepada siswa
Padahal diri ini rapuh jua
Menahan malu
Kala bersua dengan wali murid
Seakan sudah berbuat kesalahan besar
Tetap bertahan
Mencoba membantu memperbaiki keadaan
Walau hanya kontribusi seujung kuku
Tapi entahlah....
Aku juga tidak tau bertahan hingga kapan
Harapan mulai terkikis
Rasa percaya mulai padam
Memang salah besar ketika menaruh asa pada manusia.
Karena rasa kecewa akan rentan didapati
Hanya Allah Sang Pemberi Pertolongan
Yang tak akan mengecewakan
Dan menjadi satu-satunya harapan