Artikel yang kutulis untuk mengikuti lomba menulis yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia dengan tema "Cinta Rupiah"
###
Salah satu perwujudan dari cinta tanah air adalah dengan mencintai Rupiah. Rupiah sangat penting kedudukannya pada perekonomian Indonesia, oleh karena itu kita wajib untuk mencintai mata uang kita tersebut. Perwujudan dari cinta Rupiah diantaranya adalah kemampuan kita untuk mengenal karakteristik dan desain dari Rupiah. Membahas soal desain, sadar tidak bahwa desain Rupiah itu unik dan menarik? Sering kali kita hanya bertransaksi menggunakannya, namun kita tidak memperhatikan detail dari Rupiah yang kita pegang. Padahal begitu banyak yang bisa kita pelajari dari selembar Rupiah.
Contohnya saja pada uang Rp10.000, semua orang sudah tahu bahwa lembaran Rupiah dengan nominal tersebut berwarna ungu, namun masih banyak yang tidak tahu siapakah tokoh yang ada pada lembaran tersebut. Padahal itu salah satu tokoh penting Indonesia, yaitu Frans Kaisiepo, Gubernur Papua yang berperan terhadap penentuan masuknya Papua ke dalam NKRI. Frans termasuk salah satu orang Papua yang mengibarkan bendera dan menyanyikan lagu Indonesia Raya di Papua.
Selain tokoh-tokoh yang berjasa pada Indonesia, dari lembaran Rupiah kita juga bisa melihat pemandangan alam yang indah dari penjuru Indonesia. Misalnya pada lembaran Rp2.000, terdapat gambar Ngarai Sianok, lembah indah nan memukau yang terdapat di perbatasan kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Tak hanya itu, dari lembaran Rupiah pula kita bisa melihat keragaman adat dan budaya negara kita. Misalnya pada lembaran Rp50.000, terdapat tari Legong, salah satu tarian tradisional Bali yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO.
Jika setiap lembaran Rupiah diuraikan, tentu akan banyak sekali pelajaran yang bisa didapatkan. Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa Rupiah memiliki peran pendidikan yang sangat besar, dimana setiap generasi dapat belajar tentang sejarah dan kebudayaan melalui desain yang tercetak pada uang tersebut.
Selain desain, kita juga wajib mengenali karakteristik Rupiah. Sering ditemukan lembaran uang yang mirip dengan Rupiah asli, namun ternyata itu adalah Rupiah palsu. Mirisnya, Rupiah palsu tersebut dipakai untuk bertransaksi sehari-hari. Bahkan, beberapa orang mengaku tidak bisa membedakan mana yang palsu dan asli dikarenakan desain yang sangat mirip.
Pemalsuan Rupiah adalah tindakan kejahatan atau kriminal. Maraknya peredaran uang palsu ini menjadi masalah yang serius. Kita sebagai masyarakat umum seharusnya lebih waspada dan teliti dalam bertransaksi, jangan sampai karena kurangnya kewaspadaan, tanpa sadar kita ikut andil dalam penyebaran uang palsu di masyarakat.
Untuk itu, sangat perlu kita ketahui cara mengidentifikasi dan menghindari uang palsu. Tentu kita sudah tidak asing dengan kata 3D (dilihat, diraba, diterawang) yang merupakan langkah awal untuk memeriksa uang secara mandiri demi menghindari Rupiah palsu beredar di masyarakat. Selain menerapkan 3D, yang tak kalah penting adalah mengetahui ciri-ciri dari Rupiah asli agar terhindar dari yang palsu, yang diantaranya sebagai berikut:
Terbuat dari kertas khusus yang berbahan serat kapas.
Terdapat benang pengaman yang seperti dianyam pada uang pecahan Rp100.000, Rp50.000, dan Rp20.000, sedangkan pada pecahan Rp10.000, Rp5.000, Rp2.000, dan Rp1.000 terdapat benang pengaman yang tertanam.
Terdapat tanda air (watermark) bergambar pahlawan di semua pecahan uang kertas. Pada pecahan Rp100.000, Rp50.000, Rp20.000, dan Rp10.000 terdapat electrotype yang berupa logo BI (Bank Indonesia) dan ornamen tertentu yang akan terlihat jika diterawang ke arah cahaya.
Memiliki desain, ukuran, dan warna yang terlihat jelas, terang dan spesifik.
Terdapat gambar perisai yang berisi logo BI bisa berubah warna jika melihatnya dari sudut pandang berbeda. Selain itu, juga terdapat gambar tersembunyi multiwarna yang berupa angka yang akan terlihat dari sudut pandang tertentu.
Dicetak dengan teknik khusus yang menyebabkan gambar utama, lambang negara, angka nominal, huruf terbilang, dan frasa “Negara Kesatuan Republik Indonesia” akan terasa kasar jika diraba.
Terdapat kode tuna netra (blind code) berupa dua garis miring yang timbul terletak di tepi kiri dan kanan uang.
Logo BI yang dibuat menggunakan metode rectoverso atau gambar saling isi, yang akan terlihat utuh jika diterawang ke arah cahaya.
Lantas apakah cukup dengan mengenali karakteristik dan desain Rupiah saja? Tentu saja tidak. Perwujudan cinta Rupiah juga dilihat dari cara kita memperlakukan uang sehari-hari. Tidak cinta pada Rupiah ketika masih terbiasa memperlakukan Rupiah dengan cara yang tidak baik, seperti meremas, melipat, membasahi, mencoret dan menstaples uang kertas. Perilaku-perilaku tersebut adalah hal-hal yang dapat merusak Rupiah.
Perilaku merusak uang mengindikasikan kurangnya rasa cinta kita terhadap nilai dan integritas Rupiah. Kondisi uang yang rusak juga akan menyulitkan kita mengenali ciri keasliannya, sehingga hal itu akan menjadi kesempatan para penjahat dalam melakukan penyebaran uang palsu.
Oleh karena itu, jika mengaku cinta Rupiah, kita seharusnya bisa menghargai dan menjaganya. Cara menghargainya bisa dilakukan dengan langkah sederhana, misalnya menyimpan uang di tempat yang baik, menghindari coretan atau lipatan, menjaga kebersihan uang dan memastikan tangan kering ketika memegang uang.
Menerapkan cinta Rupiah dalam kehidupan sehari-hari tidaklah sulit, namun memerlukan kesadaran dan tindakan nyata. Dengan menjaga dan merawat Rupiah, kita turut berkontribusi pada stabilitas dan kekuatan ekonomi Indonesia, sehingga membantu memperkuat nilai Rupiah dan masa depan ekonomi yang lebih baik untuk negara kita tercinta.
Daftar Referensi
Matanasi, P. (2019, 10 April). Frans Kasiepo: Sejarah Perjuangan Seorang Papua untuk Indonesia. Diakses pada 21 Agustus 2024, dari Frans Kaisiepo: Sejarah Perjuangan Seorang Papua untuk Indonesia (tirto.id)
Hasan., Agriesta, D., (2022, 22 Agustus). Mengenal Tari Legong yang Tercetak di Uang Baru pecahan Rp50.000. Diakses pada 15 Agustus 2024, dari Mengenal Tari Legong yang Tercetak di Uang Baru Pecahan Rp 50.000 Halaman all - Kompas.com
Kampai, J. (2022, 18 Agustus). Ngarai Sianok, Lembah Cantik yang Muncul di Uang Rp2 Ribu. Diakses pada 15 Agustus 2024, dari Ngarai Sianok, Lembah Cantik yang Muncul di Uang Kertas Rp 2 Ribu (detik.com)
Darmawan, A.P., Nugroho, R.S. (2024, 17 Mei). Uang Palsu Diduga Marak beredar. Ini Cara Mengeceknya agar Tak Tertipu. Diakses pada 21 Agustus 2024, dari https://www.kompas.com/tren/read/2024/05/17/170000965/uang-palsu-diduga-marak-beredar-ini-cara-mengeceknya-agar-tak-tertipu?page=all
Luthfi, M. (2023, 26 Juni). Menjaga Rupiah Tidak Merusak. Diakses pada 21 Agustus 2024, dari Menjaga Rupiah, Tidak Merusak (mediaindonesia.com)
Rachman, F.F. (2017, 13 Januari). Mengenal Rectoverso pada Logo BI di Rupiah Desain Baru. Diakses pada 21 Agustus 2024, dari https://finance.detik.com/moneter/d-3395505/mengenal-rectoverso-pada-logo-bi-di-Rupiah-desain-baru