Thursday, February 13, 2025

Prasangka

 

Aku memeluk bayiku yang baru berusia setahun itu sambil menahan air mata. Dia menangis kencang, aku berusaha keras tak ikut menangis. Kuciumi dia sambil meminta maaf karena harus meninggalkannya di tempat penitipan.

 

Hari ini adalah hari pertama aku bekerja di sebuah sekolah menengah. Entah apa yang merasukiku hingga mau bekerja padahal bayiku masih begitu kecil.

 

Setelah tidak mengajar selama beberapa tahun, ternyata aku begitu rindu suasana sekolah. Aku rindu mengajar anak-anak di kelas seperti sebelum menikah. Namun, aku harus menekan keinginanku, karena itu bukanlah yang utama saat ini.

 

Memiliki bayi mungil yang rela kupertaruhkan nyawa saat melahirkannya, membuatku tak ingin berpisah jauh darinya. Bahkan kala bayiku bersama kakek dan neneknya beberapa jam saja aku sudah tak tahan dan khawatir. Bahagia rasanya bisa sepenuhnya membersamai tumbuh kembang sang buah hati. Namun, tetap seperti ada yang hilang dalam diri ini ketika hanya di rumah saja.

 

Hingga kutemukan informasi itu. Tawaran mengabdi di sekolah berbasis agama yang membuatku tertarik. Ada sebuah hasrat dalam diri untuk mencobanya. Bukankah aku sudah lama berdoa agar bisa bekerja di lingkungan yang agamis? Karena aku tidak hanya ingin mendidik murid-murid, tapi juga ingin mendidik diriku sendiri. Izin dari suami dan yayasan yang menfasilitasi daycare membuatku semakin mantap untuk bergabung. Aku bisa bekerja dengan membawa anakku adalah yang kuharapkan.

 

“Hari ini sama Bunda dulu ya, Sayang. Karena Mama harus bekerja.” ucap Bunda Tini, salah satu pengasuh di tempat penitipan, dia menggendong anakku dengan hati-hati.

 

“Titip Faiz ya, Bunda,” ucapku. Bunda Tini mengangguk dan meyakinkanku untuk tidak khawatir.

 

Aku cepat-cepat pergi karena tak ingin terlihat menangis. Namun, di sepanjang jalan menuju sekolah tempatku bertugas, aku tak sanggup lagi menahan air mata.

 

Sesampainya di sekolah yang tak jauh dari tempat penitipan itu. Aku berusaha untuk melakukan kewajibanku dengan sebaik mungkin. Walaupun aku tak sanggup menahan tangis di sudut sekolah ataupun kamar mandi.

 

“Faiz ngapain, Bunda? Bisa minta tolong kirimkan fotonya?” Kukirim pesan ditengah jeda mengajar.

 

Tak butuh waktu lama Bunda Tini membalas, dia juga langsung mengirimkan gambar Faiz yang diambil dari sudut samping, terlihat dia berdiri memegang pagar, matanya tampak sayu, entah karena mengantuk atau terlalu lama menangis.

 

Lagi-lagi hatiku tersayat melihatnya. Aku tahu begitu berat ini untuknya. Juga untukku. Tepat saat jam istirahat kusempatkan menghampirinya. Kulampiaskan rasa rindu dan rasa bersalah itu.

 

Hari-hari berlalu, kukira Faiz sudah mulai merasa nyaman, tapi kenyataannya semakin kurasa dilema. Faiz sulit tidur siang di daycare. Berat badannya turun dan menjadi mudah sakit. Aku dibuat uring-uringan.

 

“Ibu Elis, tiga hari ini silahkan temani Faiz di daycare,” usul Ibu Hera, kepala sekolah tempatku bekerja.

 

Beberapa hari ini murid-murid beserta seluruh guru melakukan kemah. Alih-alih memintaku ikut kemah, beliau malah memintaku untuk membersamai Faiz di tempat penitipan sambil membantunya untuk beradaptasi. Aku sangat bersyukur, beliau mengerti bahwa terlalu berat bagiku beberapa hari ini.

 

***

 

Sekolah ini sebenarnya masih berjuang, gedung sekolah pun masih menyewa; fasilitas sangat jauh dari sempurna. Namun visi misi sekolah ini membuatku tertarik. Saat sudah bergabung, bisa kurasakan guru-guru yang tangguh, saling mendukung dan gigih berjuang memenuhi tanggungjawabnya ditengah kekurangan yang ada.

 

Namun melihat kondisi Faiz, aku mulai bertanya-tanya. Apakah aku harus melanjutkan  atau berhenti sampai di sini.

 

“Libatkan Allah dalam setiap keputusanmu, Dek, berdoa minta petunjuk, ” kata Mas Ridho, suamiku, setelah mendengar semua keluh kesahku. “Mas mengizinkanmu karena Mas tahu itu passion-mu.” lanjutnya.

 

“Iya, Mas. Entahlah aku merasa iba dengan kondisi sekolah yang ternyata baru saja terkena musibah, sehingga mereka kehilangan gedung,” kataku.

 

“Melihat anak-anak tetap semangat belajar dan menghapal Al Qur’an dalam ruang kelas seadanya membuatku terenyuh dan ingin membantu lebih banyak,” lanjutku.

 

Tak terasa sudah sekitar tiga pekan aku bergabung di sekolah itu dan rasa cinta itu perlahan tumbuh. Aku menikmati setiap momen di situ, namun ragu juga sering menghampiri kala meninggalkan buah hatiku dan melihatnya menangis pilu.

 

Benar kata Mas Ridho, seharusnya aku melibatkan Allah dalam setiap keputusanku. Aku kembali menerawang apakah aku sudah melibatkan Allah dalam setiap keputusanku? Mengapa aku lupa bahwa aku punya Allah yang tak pernah meninggalkan hambaNya?

 

***

Sabtu pagi, aku dan seluruh guru duduk berkumpul di halaman yang sudah dialasi karpet. Kami membaca dzikir pagi dan mengaji beberapa surah. Setelah itu diisi dengan ceramah penguatan rohani oleh para senior yayasan. Beginilah aktivitas rutin di hari Sabtu pagi di sekolahku.

 

Sementara Faiz berada di rumah bersama ayahnya yang pada hari ini libur bekerja.

 

“Pastikan niat kita lurus ketika melakukan sesuatu,” ucap Ustadz Anshor memberikan wejangan, beliau senior Yayasan yang dihormati. “Ketika niat kita sudah lurus, apapun rintangan yang kita hadapi tidak akan membuat goyah,” lanjutnya.

 

Aku mendengarkan dengan seksama.

 

“Perbanyak berdoa dan berserah diri. Sekecil apapun masalah kita, doalah, minta petunjuk dan rasakanlah energi doa.”

 

Sepanjang  pulang dari kajian rutin, aku mencoba merenungi kembali kehidupanku. Selama ini aku selalu merasa tak tenang dan penuh kekhawatiran terhadap Faiz kala di penitipan. Alih-alih berdoa dan memercayakan buah hatiku kepada sang Maha Penjaga, aku malah mengkhawatirkan apakah bundanya memperlakukannya dengan baik? Maukah Faiz memakan makan siangnya? Bisakah dia tidur siang? Dan masih banyak yang kukhawatirkan.

 

Seharusnya aku menyerahkan semuanya kepada sang Maha Pengatur dan percaya akan bantuanNya, bukan malah meragu.

 

Sebulan berlalu, aku mulai bisa mengendalikan perasaanku. Ketika aku sudah mulai tenang dan berusaha menyingkirkan segala prasangka negatif, kurasakan perbedaannya pada Faiz. Saat menjenguk untuk melepas rindu dan menyusuinya pada jam istirahat, aku melihatnya bisa bermain dengan teman sebayanya dengan riang; matanya tak lagi sayu karena menahan kantuk; para pengasuhnya yang kuamati selalu berbuat baik pada Faiz ataupun anak-anak lain. Dia memang masih menangis kala kuberpamitan, namun sudah tak sepilu sebelumnya.

 

***

 

Lima tahun sudah aku di sini. Faiz sudah berusia enam tahun dan akan masuk sekolah dasar di bawah yayasan tempatku mengabdi. Kini telah hadir Fawaz yang sudah berusia tiga tahun, yang kubawa juga ke sekolah bahkan sejak usia tiga bulan.

 

Ah, perjalanan delapan kilometer dari rumah menuju ke sekolah adalah saksi dari doa-doa yang kulantunkan serta air mata yang tercurahkan. Hingga saat ini, memacu sepeda motor dari rumah ke sekolah adalah waktu favoritku merenung, merangkai doa terbaik dan membuang segala prasangka buruk dalam hati.

 

 

Balikpapan, 10 Juli 2024