Aku memeluk bayiku
yang baru berusia setahun itu sambil menahan air mata. Dia menangis kencang,
aku berusaha keras tak ikut menangis. Kuciumi dia sambil meminta maaf karena
harus meninggalkannya di tempat penitipan.
Hari ini adalah
hari pertama aku bekerja di sebuah sekolah menengah. Entah apa yang merasukiku
hingga mau bekerja padahal bayiku masih begitu kecil.
Setelah tidak
mengajar selama beberapa tahun, ternyata aku begitu rindu suasana sekolah. Aku
rindu mengajar anak-anak di kelas seperti sebelum menikah. Namun, aku harus
menekan keinginanku, karena itu bukanlah yang utama saat ini.
Memiliki bayi
mungil yang rela kupertaruhkan nyawa saat melahirkannya, membuatku tak ingin
berpisah jauh darinya. Bahkan kala bayiku bersama kakek dan neneknya beberapa
jam saja aku sudah tak tahan dan khawatir. Bahagia rasanya bisa sepenuhnya
membersamai tumbuh kembang sang buah hati. Namun, tetap seperti ada yang hilang
dalam diri ini ketika hanya di rumah saja.
Hingga kutemukan
informasi itu. Tawaran mengabdi di sekolah berbasis agama yang membuatku
tertarik. Ada sebuah hasrat dalam diri untuk mencobanya. Bukankah aku sudah
lama berdoa agar bisa bekerja di lingkungan yang agamis? Karena aku tidak hanya
ingin mendidik murid-murid, tapi juga ingin mendidik diriku sendiri. Izin dari
suami dan yayasan yang menfasilitasi daycare
membuatku semakin mantap untuk bergabung. Aku bisa bekerja dengan membawa
anakku adalah yang kuharapkan.
“Hari ini sama
Bunda dulu ya, Sayang. Karena Mama harus bekerja.” ucap Bunda Tini, salah satu
pengasuh di tempat penitipan, dia menggendong anakku dengan hati-hati.
“Titip Faiz ya,
Bunda,” ucapku. Bunda Tini mengangguk dan meyakinkanku untuk tidak khawatir.
Aku cepat-cepat
pergi karena tak ingin terlihat menangis. Namun, di sepanjang jalan menuju
sekolah tempatku bertugas, aku tak sanggup lagi menahan air mata.
Sesampainya di
sekolah yang tak jauh dari tempat penitipan itu. Aku berusaha untuk melakukan
kewajibanku dengan sebaik mungkin. Walaupun aku tak sanggup menahan tangis di
sudut sekolah ataupun kamar mandi.
“Faiz ngapain,
Bunda? Bisa minta tolong kirimkan fotonya?” Kukirim pesan ditengah jeda
mengajar.
Tak butuh waktu
lama Bunda Tini membalas, dia juga langsung mengirimkan gambar Faiz yang
diambil dari sudut samping, terlihat dia berdiri memegang pagar, matanya tampak
sayu, entah karena mengantuk atau terlalu lama menangis.
Lagi-lagi hatiku
tersayat melihatnya. Aku tahu begitu berat ini untuknya. Juga untukku. Tepat
saat jam istirahat kusempatkan menghampirinya. Kulampiaskan rasa rindu dan rasa
bersalah itu.
Hari-hari berlalu,
kukira Faiz sudah mulai merasa nyaman, tapi kenyataannya semakin kurasa dilema.
Faiz sulit tidur siang di daycare. Berat badannya turun dan menjadi mudah
sakit. Aku dibuat uring-uringan.
“Ibu Elis, tiga
hari ini silahkan temani Faiz di daycare,”
usul Ibu Hera, kepala sekolah tempatku bekerja.
Beberapa hari ini
murid-murid beserta seluruh guru melakukan kemah. Alih-alih memintaku ikut
kemah, beliau malah memintaku untuk membersamai Faiz di tempat penitipan sambil
membantunya untuk beradaptasi. Aku sangat bersyukur, beliau mengerti bahwa
terlalu berat bagiku beberapa hari ini.
***
Sekolah ini
sebenarnya masih berjuang, gedung sekolah pun masih menyewa; fasilitas sangat
jauh dari sempurna. Namun visi misi sekolah ini membuatku tertarik. Saat sudah
bergabung, bisa kurasakan guru-guru yang tangguh, saling mendukung dan gigih
berjuang memenuhi tanggungjawabnya ditengah kekurangan yang ada.
Namun melihat
kondisi Faiz, aku mulai bertanya-tanya. Apakah aku harus melanjutkan atau berhenti sampai di sini.
“Libatkan Allah
dalam setiap keputusanmu, Dek, berdoa minta petunjuk, ” kata Mas Ridho,
suamiku, setelah mendengar semua keluh kesahku. “Mas mengizinkanmu karena Mas
tahu itu passion-mu.” lanjutnya.
“Iya, Mas. Entahlah
aku merasa iba dengan kondisi sekolah yang ternyata baru saja terkena musibah,
sehingga mereka kehilangan gedung,” kataku.
“Melihat anak-anak
tetap semangat belajar dan menghapal Al Qur’an dalam ruang kelas seadanya
membuatku terenyuh dan ingin membantu lebih banyak,” lanjutku.
Tak terasa sudah
sekitar tiga pekan aku bergabung di sekolah itu dan rasa cinta itu perlahan
tumbuh. Aku menikmati setiap momen di situ, namun ragu juga sering menghampiri
kala meninggalkan buah hatiku dan melihatnya menangis pilu.
Benar kata Mas
Ridho, seharusnya aku melibatkan Allah dalam setiap keputusanku. Aku kembali
menerawang apakah aku sudah melibatkan Allah dalam setiap keputusanku? Mengapa
aku lupa bahwa aku punya Allah yang tak pernah meninggalkan hambaNya?
***
Sabtu pagi, aku dan
seluruh guru duduk berkumpul di halaman yang sudah dialasi karpet. Kami membaca
dzikir pagi dan mengaji beberapa surah. Setelah itu diisi dengan ceramah
penguatan rohani oleh para senior yayasan. Beginilah aktivitas rutin di hari
Sabtu pagi di sekolahku.
Sementara Faiz
berada di rumah bersama ayahnya yang pada hari ini libur bekerja.
“Pastikan niat kita
lurus ketika melakukan sesuatu,” ucap Ustadz Anshor memberikan wejangan, beliau
senior Yayasan yang dihormati. “Ketika niat kita sudah lurus, apapun rintangan
yang kita hadapi tidak akan membuat goyah,” lanjutnya.
Aku mendengarkan
dengan seksama.
“Perbanyak berdoa
dan berserah diri. Sekecil apapun masalah kita, doalah, minta petunjuk dan
rasakanlah energi doa.”
Sepanjang pulang dari kajian rutin, aku mencoba
merenungi kembali kehidupanku. Selama ini aku selalu merasa tak tenang dan
penuh kekhawatiran terhadap Faiz kala di penitipan. Alih-alih berdoa dan
memercayakan buah hatiku kepada sang Maha Penjaga, aku malah mengkhawatirkan
apakah bundanya memperlakukannya dengan baik? Maukah Faiz memakan makan
siangnya? Bisakah dia tidur siang? Dan masih banyak yang kukhawatirkan.
Seharusnya aku
menyerahkan semuanya kepada sang Maha Pengatur dan percaya akan bantuanNya,
bukan malah meragu.
Sebulan berlalu,
aku mulai bisa mengendalikan perasaanku. Ketika aku sudah mulai tenang dan
berusaha menyingkirkan segala prasangka negatif, kurasakan perbedaannya pada
Faiz. Saat menjenguk untuk melepas rindu dan menyusuinya pada jam istirahat,
aku melihatnya bisa bermain dengan teman sebayanya dengan riang; matanya tak
lagi sayu karena menahan kantuk; para pengasuhnya yang kuamati selalu berbuat
baik pada Faiz ataupun anak-anak lain. Dia memang masih menangis kala
kuberpamitan, namun sudah tak sepilu sebelumnya.
***
Lima tahun sudah
aku di sini. Faiz sudah berusia enam tahun dan akan masuk sekolah dasar di
bawah yayasan tempatku mengabdi. Kini telah hadir Fawaz yang sudah berusia tiga
tahun, yang kubawa juga ke sekolah bahkan sejak usia tiga bulan.
Ah, perjalanan
delapan kilometer dari rumah menuju ke sekolah adalah saksi dari doa-doa yang
kulantunkan serta air mata yang tercurahkan. Hingga saat ini, memacu sepeda
motor dari rumah ke sekolah adalah waktu favoritku merenung, merangkai doa
terbaik dan membuang segala prasangka buruk dalam hati.
Balikpapan, 10 Juli
2024