Pagi itu tubuhku sedikit hangat. Semalam, tidur pun tak nyenyak. Namun, tetap ku berangkat, menuju sekolah tempat pengabdian.
Di leher juga muncul jerawat yang mirip. Kupencet lagi. Perih.
Sebentar, ini terlihat tak asing. Lenting ini bukan jerawat! Ini adalah ....
Cacar air! Oh, tidak! 😖
Sebentar, sebentar, aku tidak boleh panik. Mungkin saja ini bukan cacar. Hanya bentol biasa.
Kutunjukkan pada partner hidupku. Fix, ini memang cacar katanya.
Baiklah. Aku ambil napas dalam-dalam. Hembuskan. Ambil lagi. Hembuskan. Begitu terus.
Ini tidak apa-apa. Nanti juga sembuh. Kucoba menerima kenyataan terkena cacar diusia kepala tiga.
Ini hanya setitik ujian dibanding sejuta nikmat dari Sang Pencipta.
Esoknya, lenting lain bermunculan. Berair dan gatal. Bergegas kutemui dokter.
"Apa keluhannya, Bu?" tanya perawat cantik, tangannya ingin meraih lenganku.
Kusampaikan keluhan. Sekejap ditarik kembali tangannya, urung mengukur tensiku. Aku maklum.
Bu Dokter memberi nasihat, surat, dan banyak obat.
Tiga hari lamanya aku terkapar. Suhu tubuh panas, kepala pusing, tenggorokan sakit. Lenting muncul semakin banyak. Dari kepala hingga kaki.
Hari ke empat dan lima, tubuh mulai nyaman. Tiada lagi panas dan pusing, walau lenting masih bertebaran.
Hari ke enam dan tujuh, sebagian lenting sudah mulai kering.