Hafalan materi buyar dalam sekejap
ketika tanpa sengaja mata tertuju pada wajah yang tak asing terlihat. Umpatan
demi umpatan tanpa sengaja terlontar, entah bagaimana ekspresi wajahku saat
itu. Sedikit panic, heran, bingung, kesal bercampur jadi satu. Dia satu-satunya
yang tak ku harapkan kehadirannya. Bahkan dihari-hari atau diminggu-minggu
sebelumnya dengan khusyuknya aku berdoa semoga tak melihat batang hidungnya. Posisinya
tepat dipojok belakang ruang kelas, membuatku semakin merasa tak nyaman. Susah
untuk memahami soal yang ada ditanganku karena fikirannku hanya tertuju
padanya. Ini salah satu hal yang paling menyakitkan dalam hidupku ketika aku
tak bisa memisahkan urusan perasaan dengan yang lain.Tak bisa membagi dengan
bijak mana yang urgent dan mana yang tidak. disaat yang segenting itu
bayangannya menari-nari dalam kepalaku bahkan coretan pena belum nampak
dilembar jawaban. Untungnya suara bisikan tetangga sebelah menyadarkan waktu sudah setengah jam terbuang dengan senyum
kecut sambil meremas lembar soal aku
berusaha keras mengingat materi yang semalam ku pelajari. Bisa dibayangkan soal
dengan jawaban yang beranak harus ku kerjakan dalam waktu tidak lebih dari tiga
puluh menit. bersyukur aku bisa menyelesaikan dengan peluh diwajah. Pada
intinya semua kegiatannku akan terganggu kalau aku melihat ataupun mendengar
sesuatu yang berbau akan dia.
No comments:
Post a Comment