With Big Dash I am only
Able to paint
The sound of
Of emptiness
~Abdul Wahab (The book of my life)
Anne
Daun
itu gugur tepat di depan mataku, pelan tak besuara. Hembusan angin perlahan
menerpa wajahku. Memang musim gugur akan
segera berakhir, berganti dengan musim dingin. Ah, musim dingin, entahlah aku
merasa diriku sama seperti musim itu, dingin dan hampir di benci oleh setiap
orang.
Bipp.. biipp..
Dering ponselku membuyarkan lamunanku. Ibuku menelepon.
“hallo
sayang, kau sudah bangun ? ”, terdengar suara yang sangat akrab di telingaku.
“ ya mom,
seperti yang kau dengar ”, jawabku.
“
apakah kau sudah mengecek inboxmu? Aku mengirimkan pin pengambilan paket pagi ini”, katanya.
“ya
mom”, jawabku lagi sekenanya.
“ok
sayang, jaga kesehatanmu, aku mencintaimu”
“aku
juga”
Telepon
terputus.
Tak
usah di tanya, aku sudah tau apa yang di kirim ibu pagi ini. Entahlah, mungkin
hanya ibu yang aku punya di dunia ini, hanya dia satu- satunya orang yang
peduli dan menyayangiku. Hingga usiaku 20 tahun, ibu masih saja memperlakukanku
seperti anak kecil, aku tidak perlu lagi pusing memikirkan segala kebutuhanku,
ibu semua yang mengurusnya. Terkadang aku risih, tapi aku tau itu semua karena
ibu menyayangiku. Dan aku juga tak ingin mengecewakannya, terlebih setelah ayah
meninggal lima tahun silam, dia bekerja keras memenuhi kebutuhan kami berdua.
Dia bekerja sepanjang siang dan malam mengurus floristnya di tengah kota.
Memang florist ibu tidak terlalu besar, tapi itu adalah florist terbaik di
kota. Dia juga memperkerjakan tiga orang karyawan disana, tapi, dia juga tidak
mau menyerahkan semua pekerjaan dengan karyawan, dia lebih senang
mengerjakannya seorang diri. Itulah ibu. Terkadang dia egois.
Mataku
kembali menerawang, ku langkahkan kaki ke pintu lalu menaikki tangga menuju
atap teras kamarku, ini adalah tempat favoritku, di mana aku bisa memandang
semuanya dari atas sini, aku berterima kasih sekali pada ibu yang memilihkan
rumah sebagai tempat tinggalku. Terlebih untuk orang yang senang menyendiri
sepertiku. Sebenarnya bukan aku sendiri yang tinggal di rumah ini, si pemilik rumah, Miss. Amberlly Bannet
tinggal tepat di lantai bawah, dia hanya sendiri. Itulah sebabnya dia
menyewakan kamar kosong di lantai atas, beserta kamar mandi dan teras atap.
“anggap
saja seperti rumah sendiri, Anne, silahkan pakai dapur dan ruang bacaku”, kata
Miss. Amberlly saat aku pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini.
Well,selama
ini dia baik kepadaku, walaupun kami tidak banyak bicara. Hanya saja aku heran
kenapa dia masih sendiri di usia yang hampir setengah abad ini. Mungkinkah dia
terlalu sibuk dengan pekerjaannya, hingga dia tidak sempat memikirkan untuk menikah.
Dia memang jarang sekali berada di rumah.
Dari
atap teras ini, aku bisa melihat rumah tepat di sebelah kanan kontrakkanku, rumah
itu hampir sama dengan kontrakanku,
hanya saja sedikit lebih besar dan tinggi. Memiliki bentuk minimalis, dinding
kaca yang besar namun tidak tembus pandang, memiliki ornament dan sedikit ukiran,
berwarna biru muda yang menyerupai abu-abu. Di sebelah kiri rumahku terdapat
jalan kecil. Jalan itulah yang hampir tiap hari ku lalui dengan berjalan kaki
menuju Louiston Art College, tempat aku belajar Visual Arts selama setahun terahir ini. Jaraknya tidak jauh, hanya sekitar 200 meter.
Aku
melangkah gontai ke arah kursi dan meja di tepi pagar teras. Aku letakkan kanvas
serta peralatan lukisku ke atas meja. Tanganku mulai menari – nari di atas
kanvas, tidak jelas sebenarnya apa yang ku lukis, hanya mencoret – coret
abstrak, menuruti suasasana hati yang kosong. Entahlah, aku merasa melukis
adalah duniaku, aku memang bukan orang yang bisa mengungkapkan sesuatu dengan
kata – kata ataupun tulisan.
Angin
berhembus lagi, dingin. Ku rasa baju tidurku terlalu tipis untuk ku pakai di
atas ini. Ku seka rambut panjangku yang menutup wajahku karena tertiup angin. Sesaat
ku lirik jam dilenganku, sudah pukul 07.00 am, perlahan ku beranjak menuju
dapur. Mencari sesuatu yang bisa menghangatkan dan mengisi perutku. Roti lapis
isi daging, dengan lapisan keju di dalamnya serta segelas cokelat panas mungkin
cukup untukku. Ya. Masih sama seperti kemarin, hampa dan sepi.
***
I know what seeing is!
As I saw you that day for the first time
So I know what liking is!
~Abdul Wahab (What the love is)
Julian
Ya ,
dia muncul lagi di teras atapnya. Masih sama seperti kemarin, dia tetap
terlihat cantik dengan baju tidur dan rambut terurai begitu. Matanya, ah! Andai
aku mengerti arti dari mata sendu itu. Eh, Dia melihat ke arah kamarku,
mungkinkah dia melihatku ? ah, konyol, itu tak mungkin. Dinding kacaku tidak
tembus pandang dari luar. Ku raih kamera, ku ambil beberapa gambarnya. Well,
Lumayan lah, walaupun sedikit tak jelas karena terhalang kaca.
“ Julian
!! “, teriak Ibuku.
“Ayolah
mom, Ini hari minggu, biarkan aku bersantai ! ”, aku balas berteriak.
Mataku
masih tak lepas mengamati gadis itu. Ah,
kapan aku bisa berbicara denganmu Anne ? Sudah sekian lama aku mengamatinya
dari sini, mengapa tak sekalipun aku berani mengajaknya bicara, bahkan
menyapapun aku takut. Jangankan di dunia nyata, di dunia maya untuk sekedar
chattingpun aku ciut. Aku jadi ragu, apakah dia mengenalku atau tidak? Jangan –
jangan namaku pun dia tak tau. Padahal hampir tiap hari kami bertemu di kampus,
saat kebetulan mengambil kelas yang sama dan juga kami sering kebetulan bertemu
di jalan menuju kampus. Sebenarnya bukan kebetulan sih, itu karena aku sengaja
mengikutinya. Tapi, aku mulai ragu, dia sepertinya memang tak mengenalku. Argh,
Julian… mengapa kau menjadi begitu menyedihkan?
Tak
lama gadis itu melipatkan tangan ke dadanya, terlihat kedinginan. Rambutnya
tertiup angin, sehingga menutupi wajahnya. Ingin rasanya aku ada di situ,
merengkuhnya, agar dia tak kedinginan, lalu menyibakkan rambutnya yang menutupi
wajah, serta meyakinkannya bahwa dia akan baik – baik saja bersamaku. Ah,
pikiranku mulai melantur. Sekarang aku merasa seperti laki – laki yang benar –
benar pengecut.
“Apa
yang kau lakukan? Apakah kau lupa hari ini kau harus mengantar adikmu ke festival
menggambar dan mewarnai di City Hall ! “
Aku
sedikit terkejut, aku baru sadar ternyata
ibu sudah berada di kamarku.
“ Tidak
bisakah kau mengantarnya sendiri, mom ? Aku mempunyai hal penting yang harus
aku kerjakan mom, please “ , kataku sedikit memelas dan meyeringai nakal.
“
Apakah menurutmu memata – matai seorang gadis itu hal yang lebih penting dari
pada mengantar Alice ?”
Aku
terdiam dan menertawakan diri sendiri di dalam hati. Ya, aku memang tak lebih
hanya seperti mata – mata.
“
Segera turun ke ruang makan, sarapan sudah siap “, tambah Ibu, kemudian
melangkah keluar seraya menutup pintu.
Mataku
kembali melihat menuju atap teras gadis itu, tetapi sosoknya telah lenyap.
***
If I am not thirsty so why do I have to
drink water?
If there is no love in my life so why do
I have to stay alive?
~Jena (No Love)
Anne
Ku
langkahkan kaki menuju kampus pelan – pelan. Udara pagi ini dingin sekali, ku
rapatkan coat di tubuhku yang kemarin baru di kirim Ibu. Jalan terlihat ramai
pagi ini, seperti biasa. Hari senin, kembali di mulainya aktivitas, setelah
bermalas – malasan saat weekend.
Kampusku
tidak jauh, tepatnya pas di sebrang ujung gang kecil ini. kampus sudah terlihat
ramai. Lima belas menit lagi, aku harus menghadiri Color and Composition Class. Ku sempatkan untuk mencari minuman hangat
dulu di kedai minuman di samping kampus. Tidak begitu ramai, hanya ada tiga
orang yang terlihat menikmati minuman serta makanan kecil, seraya sibuk dengan
aktifitas mereka masing – masing. Segera ku masuk dan mengambil tempat duduk di
pojok depan. Kedai minuman ini tidak luas, tapi memiliki desain yang nyaman dan
bersih. Di sini menyediakan beraneka ragam minuman, baik dingin ataupun panas
dan juga menyediakan beraneka ragam kue atau makanan kecil. Aku sudah beberapa
kali mengunjungi kedai ini.
Sekarang
Aku butuh kopi untuk menghangatkan perutku. Segera ku pesan hot latte coffee
favoritku, ku sesap dan nikmati pelan – pelan kopiku. Entahlah, aku merasakan
kopi ini nikmat sekali saat ini.
“Wah,
udaranya dingin sekali ya, musim dingin memang telah tiba”, ku dengar suara
seorang pria dari belakangku. Kemudian dia menyambar kursi tidak jauh dariku, “hot
cappuccino, please” katanya lagi.
“ya
begitulah, sepertinya hujan akan turun hari ini, kau tidak memakai gula, bukan
? “, sahut Mrs. Killian , si pemilik kedai menanggapi pria itu.
“ya ,
seperti biasa Auntie ”, jawabnya.
Aku
melirik sekilas kearah pria itu. Aku merasa tidak asing dengan wajahnya,
seperti sering bertemu. Ya, pantas saja sering bertemu, dia pasti kuliah di
kampus yang sama denganku. Ku lihat gantungan kunci di ranselnya terdapat logo Music Concentration, salah satu
konsentrasi di Louiston Arts College. Dia menoleh ke arahku.
“ Hai!”
katanya, seraya tersenyum memamerkan giginya.Aku hanya tersenyum tipis
kepadanya. Sedikit malu karena tertangkap memperhatikannya.
Tidak
ingin berlama – lama. Aku pun segera menegak sesapan terakhirku dan segera
menuju kampus. Aku tidak ingin terlambat, Mr. Robert, dosen Color and Composition paling tidak suka
dengan mahasiswa yang terlambat.
Ku
periksa tasku sebelum memasuki kelas, aku khawatir aku tidak membawa peralatan
gambarku. Aman, tak ada yang tertinggal. Sampai saat ini aku memang belum
pernah melakukan hal yang ceroboh, hidupku teratur, Ibu selalu mengajariku
untuk selalu waspada dan mempersiapkan segala sesuatu lebih awal.
***
I guess I'm your secret admirer
That name seems to fit just right
I don't know what I like about you
But you're on my mind, day and night
I don't know what I like about you
But you're on my mind, day and night
~Mandy
(Secret Admirer)
Julian
Aku
hanya terbengong menyaksikan kepergian gadis itu dari belakang, dia begitu buru
– buru meninggalkan kedai ini. Padahal kami belum sempat mengobrol. Tapi, ini bukan
awal yang buruk, setidaknya tadi dia sempat tersenyum kepadaku. Ah, sekian lama
aku mengamatinya, tadi adalah pertama kalinya aku melihatnya tersenyum. Tersenyum
kepadaku. Senyum yang singkat tapi cukup membuat aku terpana sesaat, manis.
Ku
sesap kopiku lamat – lamat. Kalo bukan karena Anne, aku tidak akan mampir ke
kedai minuman ini, malangnya diriku, orang yang membuatku kesini, malah
meninggalkanku lebih dulu. Mrs. Killian berjalan ke arahku seraya membawa
makanan kecil, kemudian dia duduk di kursi tepat di depanku. Kedai memang sepi kali ini,
mungkin itu sebabnya dia berbaik hati menemaniku.
“
sudahlah, jangan terlalu di pikirkan, wanita seperti dia memang sedikit sulit
untuk di taklukan, ini makanlah” kata Mrs.Killian , seraya menyodorkan sepiring
wafel.
Sontak
aku hampir tersedak kopi karna mendengar perkataan Mrs. Killian barusan.
Semudah itukah dia mengetahui apa yang kurasakan.
“
maaf, aku tidak mengerti apa yang kau maksud, auntie “, elakku seraya
memalingkan wajahku, aku tak ingin dia melihat wajahku yang kurasa mulai
memerah ini.
“ aku
ini juga pernah muda ” , kata Mrs. Killian seraya mulai memakan wafel yang di
bawanya. “bagaimana kabar Ibumu sekarang? kemarin aku sempat bertemu sebentar
saat dia mengantar Alice ke sekolah, tapi kami tidak sempat mengobrol”
Untung
dia mengalihkan topik pembicaraan, jadi aku tidak perlu membahas tentang Anne
kepadanya. Walaupun aku masih sangat penasaran, bagaimana dia bisa mengetahui
perasaanku yang ku pikir hanya aku dan Tuhan yang tau. Aku memang sudah lama
mengenal Mrs.Killian, karena dia adalah teman lama Ibuku. Tapi aku baru
mengetahui kalau ternyata dia punya bakat membaca perasaan seseorang.
“ Mom baik – baik saja auntie” jawabku.
“ jadi,
apakah kau tidak pergi ke kampus ?” tanya
Mrs.Killian lagi.
“ umm,,
sebenarnya aku tidak ada jam kuliah hari ini, hanya berjalan – jalan, bosan di
rumah”, kataku kikuk, aku tau itu alasan yang sedikit bodoh, bagaimana mungkin
aku berjalan – jalan dengan kondisi cuaca yang sangat cocok untuk bermalas –
malasan di rumah seperti ini.
Mrs.Killian
terkekeh. Terdengar seperti menertawakan kebodohanku, ya tertawakan saja
kebodohanku ini, auntie.
***
Some some sweet talk
In the rain
I never think, this is a start
Anne
“kerja
bagus, Anne”, kata Mr.Robert setelah melihat hasil paduan warna di kanvasku.
Beliau tadi memberikan tugas di kelas untuk melukis apapun yang ada di pikiran
kita. Aku tidak yakin hasil gambarku baik, tapi aku memang melukisnya sepenuh
hati, terlihat sedikit abstrak tapi Mr.Robert dengan mudah mengenali bahwa aku
telah menggambar pohon kering tanpa daun, di tengah musim dingin.
“terima
kasih, sir”, kataku pelan. Mr. Robert kembali berkutat menilai hasil lukisan
komposisi para siswa lain.
Aku
melangkahkan kaki keluar kelas. Ku lihat langit amat mendung. Teringat kembali
percakapan pria dan Mrs.Killian pagi tadi, bahwa akan turun hujan siang ini. Bener
saja, mungkin aku akan kehujanan. Karna, aku tidak membawa payung saat ini.
Perlahan
ku tinggalkan kampus menyusuri jalan yang terlihat sepi. Rintik – rintik hujan
mulai membasahi pakaianku. Salahku tidak membawa payung, padahal sejak tadi
pagi tanda – tanda akan turun hujan sudah terlihat.
Tubuhku
mulai kedinginan, mungkin sebaiknya aku berteduh dulu di salah satu toko di
pinggir jalan. Tapi, ku urungkan niatku, lagi pula rumahku tidak jauh. Aku
hanya perlu mempercepat langkahku.
Tiba
– tiba ku dengar derap kaki seseorang di belakangku. Kemudian, dia
menyelaraskan langkahnya tepat di sampingku. Tiada lagi rintik – rintik hujan
membasahi tubuhku. Langkahku terhenti sesaat, kemudian menoleh kearah pria di
sampingku. Tatapan kami beradu, dia menyunggingkan senyum. Aku bergeming, dia
pria di kedai minuman tadi pagi.
Ku
percepat langkahku, setengah berlari. Tapi, pria itu dengan mudah menyusulku.
“ aku
tak perlu pertolonganmu”, kataku pelan.
“ aku
hanya tidak ingin melihat gadis kedinginan di tengah hujan”, balas pria itu.
Aku
hanya diam. Tidak bisa ku pungkiri bahwa aku sedikit berterima kasih kepada pria
ini karena mau berbagi payung denganku.
“lagi
pula rumahku searah denganmu” tambahnya lagi seraya tersenyum kepadaku.
“apa
maksudmu searah? Apakah kau tau rumahku?” tanyaku kepadanya.
Dia
tampak terkejut.
“ kita
bertetangga, bukan ?”, dia balik bertanya
“benarkah
?” tanyaku lagi.
Dia
menghembuskan nafas berat.
“sudahlah,
rupanya kau memang tak mengenalku”, katanya kemudian.
Aku
mengerutkan kening, berusaha mencerna maksud perkataannya barusan.
“ah,
maksudku kita memang belum berkenalan, bukan?” ralatnya cepat.
Aku
masih bergeming.
“Julian”,
katanya lagi seraya menjulurkan tangannya di depanku.
Ku sambut
tangannya.
“Anne”,
kataku singkat.
Sejenak
atmosfir diantara kami menjadi sedikit kaku, hening.
“jadi,
konsentrasi apa yang kau ambil di LAC?” tanyanya memecah keheningan diantara
kami.
“
Visual Arts” , jawabku singkat.
Suasana
hening kembali, aku sadar, aku memang bukan orang yang asyik di ajak bicara.
Beruntung rumah kontrakkanku telah sampai, jadi aku tak perlu berlama – lama
berada di suasana yang tak nyaman ini.
“terima
kasih”, kataku kepadanya, dia mengantarku sampai tepat di depan pintu.
“tak
perlu berterima kasih”. Jawabnya “rumahku tepat di samping rumahmu”, sambungnya
seraya menujuk rumah yang berada di sebelah kanan rumah kontrakkanku.
“oh,
pantas wajahmu familiar”, jawabku asal, aku baru mengetahui bahwa dia adalah tetanggaku.
Aku memang kurang memperhatikan orang - orang sekitar sini.
“ya,
selain tetanggamu, aku juga kuliah di LAC”
“aku
tau”
“kau
tau?”, nada bicaranya meninggi. “jadi, kau pasti sudah mengenalku sebelumnya”,
katanya, terlihat tampak penasaran.
Aku
menggeleng , kemudian menunjuk gantungan kunci bergambar logo “Music Concentration of Louston Art College”
di ranselnya.
“oh, begitu”,
nada bicaranya merendah kembali.
Perubahan
ekspresi wajah dan nada suaranya membuatku ingin tertawa. Memangnya mengapa
bila aku sudah mengenalnya ataupun belum, apakah itu hal yang penting untuknya.
“baiklah,
sampai jumpa, Anne”, katanya seraya melangkah meninggalkanku.
“sampai
jumpa”, aku memandang kepergiannya dari belakang. Tak lama dia menengok. Dia
tersenyum, seraya melambaikan tangannya. Tanpa sadar, bibirku menyunggingkan
senyum. Dia .menyenangkan.
***
Julian
Aku
merasa hari ini benar – benar hari keberuntunganku, mimpi apa aku semalam,
sehingga aku bisa sepayung berdua dengan Anne. Tidak ada ruginya aku menunggu
hingga siang di rumah Niall, setelah minum kopi di kedai Mrs.Killian tadi pagi,
aku memutuskan untuk pergi ke rumahnya yang tidak jauh dari kedai Mrs.Killian.
Niall teman sekelasku dan juga teman baikku, Dia satu – satunya teman yang tau
tentang kisah cintaku yang amat menyedihkan ini, dialah yang telah memberi ide
jenius padaku untuk berbagi payung dengan Anne. Bila saja dia tak bekerja malam
ini, aku pasti akan mentraktir dia sebagai ucapan terima kasih. Sayang, dia harus
bekerja sebagai waiter di sebuah café pada malam hari. Dia memang harus bekerja
keras, karena dia harus memenuhi kehidupannya seorang diri. Ayah dan ibunya
telah meninggal karena kecelakaan tragis beberapa tahun silam. Dia juga sering
mengajakku menjadi penyanyi jalanan di jalan, dan aku sangat menikmatinya,
bagiku itu menyenangkan, sekalian menyalurkan hobi.
Diriku
masih berbaring di ranjang, menatap langit – langit kamar. Masih terekam jelas
moment indah yang terjadi tadi siang. Ku pejamkan mata, mencoba mengulang kisah
yang baru saja terlewati.
Aku
segera bangkit, meraih gitar kesayanganku yang tersandar di dinding.
Segera
ku petik, mencoba memainkan sebuah lagu, untuk Anne.
You were there
in the middle of rain
Alone
I guess you need someone
Don’t
ask me why
Don’t
ask me how
Coz
there’s no reason
I
just do
Loving
you in silent
Tidak
buruk, setidaknya lagu ciptaanku bertambah lagi. Siapa tau suatu saat laguku
akan laku di pasaran, ya aku dan Niall mempunyai keinginan untuk menjadi
penyanyi, kami memang baru menjadi penyanyi jalanan, dan kurasa banyak orang –
orang yang menyukai suara kami.
You
were there
In
the middle of rain
I
knew you need somebody
To
keep you warm
And
that somebody is me
Ku
pikir jatuh cinta itu tidak buruk, terkadang itu akan menjadi sebuah inspirasi.
***
Anne
Goldrim
Park mulai terlihat ramai sekarang, beberapa anak – anak serta orang dewasa
datang dan bersantai di taman di tengah kota ini. Aku segera menyelesaikan
gambarku, aku sengaja pergi ke taman ini sejak pagi sekali untuk melukis. Aku
mengambil objek beberapa bunga di salah satu sudut di taman ini. Terlihat
beberapa orang yang lalu lalang berhenti sejenak, sekedar melihat hasil
gambarku.
Aku
merasa semakin tak nyaman, ku hentikan kegiatan gambarku dan bergegas ku
rapikan alat – alat gambarku. Di tengah aku merapikan alat – alat gambarku,
terlihat dua orang pemuda datang ke tengah taman. Masing – masing mereka
membawa gitar. Salah satu dari pemuda itu terlihat tak asing. Dia pemuda yang
beberapa hari lalu menolongku dengan bersedia berbagi payungnya denganku saat
hujan. Julian.
Sayup
– sayup kudengar, Julian dan temannya mulai memainkan gitar dan bernyanyi, segera
ku langkahkan kaki mendekati mereka yang kini mulai di kerumuni oleh beberapa
pengunjung.
When
you were here before
Couldn’t
look you in the eye
You’re
just like an angel
Your
skin makes me cry
You float like a feather
In a beautiful world
Oh, I wish I was special
You’re so very special
Kini aku
berdiri berjarak sekitar lima meter dari mereka. Mataku tertuju kepada Julian
yang sedang bernyanyi. Dia tampak sangat menikmati. Dia bernyanyi seraya
melempar senyum kepada penonton. Aku merasa dia tampak mempesona bila
bernyanyi. Tanpa sadar aku ikut menikmati lagu yang mereka nyanyikan. Aku tau
itu sebuah lagu lama dari Radiohead, berjudul creep. Menurutku suara mereka
tidak buruk.
But I
am creep,
I
am weirdo
What
the hell am I doing here?
I
don’t belong here
Ku
lihat, Julian melayangkan pandangannya kepada penonton sekitar, ku rasa tidak
lama lagi pandangannya akan tertuju kearahku. Entah mengapa aku merasa seperti
tak siap bila dia melihatku. Seperti ada sesuatu di perutku. Aku mulai merasa
tak nyaman dan ingin segera pergi dari tempat ini. Tapi, terlambat .Kini, pandangannya
tertahan padaku, mata kami beradu. Sontak jantungku berdetak lebih cepat dari
biasanya.
I
don’t care if it hurts,
I
wanna have a control,
I
want a perfect body
I
want a perfect soul
I want you to notice
When I’m not around
You’re so very special
I wish I was special
***
Julian
Aku
memandang tempat Anne berdiri sebelumnya, tetapi sosoknya telah lenyap. Ku
pandangi sekelilingi taman. Nihil. Mungkin dia telah pulang kerumah.
“hey,
apa yang kau cari ?”, Niall menepuk pundakku.
Aku
hanya menggeleng. Tak bisa di pungkiri aku masih berharap akan menemukan
sosoknya di tengah keramaian ini. Niall ikut memandangi sekitar taman.
“kau
sendiri, apa yang kau cari?”, tanyaku kemudian.
“mencari
apa yang kau cari”, jawabnya asal.
Aku
tertawa masam. Aku beranjak, menggendong gitarku.
“
ayolah, ketempat selanjutnya”, kataku.
“apakah
dia ada disini?, tanyanya seraya tersenyum menggodaku.
“dia,
siapa?”, tanyaku pura – pura tak mengerti.
Niall
tak menjawab, hanya melengos lalu pergi mendahuluiku. Aku segera menyusulnya.
“dia
tadi melihat kita bernyanyi”, kataku kemudian seraya menyelarasi langkahnya.
“apa
yang dia lakukan di sini?”, tanya Niall.
“entahlah”,
jawabku.
Sekilas
terbayang wajahnya saat tatapan antara aku dan dia beradu. Entahlah, aku
merasakan debaran yang lebih hebat dari biasanya. Mungkinkah aku benar – benar
menyukainya? Ah, Kami bahkan pernah berbicara hanya sekali.
“apa
yang kau pikirkan? wajahmu memerah”, kata Niall, seraya tertawa melihatku.
“apakah
ini lucu?”, tanyaku.
“ayolah,
jangan terlalu di anggap serius”, katanya lagi, seraya merangkulku.
“aku
hanya tak mengerti akan perasaanku sendiri”, kataku kemudian.
Tawa
Niall bertambah keras.
“berhentilah
tertawa, sebelum aku membunuhmu”, kataku kesal.
“berhentilah
jadi pengecut, mulailah dekati dia”, kata Niall, setelah berhenti tertawa.
Aku
hanya diam, malas menanggapi perkataan Niall.
***
Anne
Even I am in love
With a person I don’t really know
I don’t know how, I don’t know why
I just did
Ku
coba untuk menepis bayang – banyangnya yang selalu melintas di benakku. Tapi,
rupanya bayangnya begitu betah bersarang di dalam pikiranku. Di teras atapku,
ku susun peralatan lukisku, mulai melukis apa yang ada di benakku.
Tanganku
mulai menari liar di atas kanvas, aku tak tau persis apa yang ku gambar, hanya
mengikuti kemauan hati. Seraya membayangkan sepasang mata yang memandangku
ditaman siang tadi. Ah, wajarkah ini?
Kemudian,
aku mendengar suara berisik dua orang pria tepat di jalan didepan rumah.
“biar
aku saja yang mentraktirmu malam ini”
“dengan
senang hati, mate ”, terdengar suara
tawa yang cukup keras.
Aku
menoleh kebawah, sepertinya aku mengenal salah satu dari suara itu.
“
berhentilah tertawa seperti itu, tidak ada yang lucu”
Kembali
ku rasakan desir aneh itu saat melihat sosoknya.
“bagiku,
kau lucu”, kata temannya yang tak kukenal itu, sambil tertawa lagi.
Dari
atas sini, ku lihat Julian memasuki
rumahnya bersama temannya. Suasana pun kembali hening. Biip.. biip.. ponselku
berdering, ibuku menelepon.
“Hallo,
mom”
“hallo
sayang, bagaimana keadaanmu di sana?”
“baik
mom”
“pakailah
pakaian tebal bila berangkat kuliah, kau tau cuaca sangat dingin”, seperti
biasa, ibu mulai berceloteh.
“ayolah,
mom, aku bukan anak kecil lagi”, kataku sedikit kesal.
Ibu
tidak peduli, beliau tetap menceramahiku di telepon. Tidak ada pilihan lain
selain hanya mendengarkan dan mengatakan ya kepadanya.
“mungkin
ibu tak akan sering – sering menghubungimu lagi, mulai minggu ibu akan banyak
sekali hal yang harus di selesaikan”
aku
tertegun, bukankah sejak awal kau memang sudah sibuk, mom?
“mom,
kau tak harus bekerja terlalu keras”
“ibu
melakukannya dengan senang hati, sayang”
Aku
terdiam, tak tau harus bagaimana menghadapi ibuku yang amat keras kepala ini.
“ok,
jagalah selalu kesehatanmu, aku menyayangimu”
Belum
sempat aku menjawab, telepon sudah terputus.
Ibu…
sudah lama aku tak melihat sosok cerewet itu. Sosok yang yang tak ingin aku
kecewakan dan telah berkerja keras untukku. Ingin rasanya aku membantunya di
florist, toh aku tak masalah bila harus berhenti kuliah. Ku rasa aku akan tetap
bisa melukis tanpa harus kuliah. Tapi, ibu tidak mau, dia bersikeras
menginginkan aku melanjutkan sekolah. Dan aku tak bisa membantahnya.
“Anne!”
Sekejap
lamunanku terbuyar mendengar suara wanita memanggil namaku. Suara milik Miss.Amberlly,
tumben sekali beliau pulang jam segini. Tidak biasanya pula beliau memanggilku.
Segera ku tinggalkan lukisanku yang belum ku selesaikan.
Aku
berjalan cepat menuruni tangga, menuju kamarku. Suara Miss.Amberlly masih
terdengar memanggilku.
“ya,
ada apa Miss.Amberlly?” kataku seraya membuka pintu kamarku, dan
mempersilahkannya masuk.
“apa
yang kau lakukan?”, tanyanya seraya duduk di kursi tanpa lengan di samping
ranjangku.
“maaf,
tadi saya sedang melukis di teras atap”, jawabku.
“that’s
fine”, sahutnya
Matanya
tampak mengamati sekeliling kamarku. Ini pertama kalinya Miss.Amberlly
menginjakkan kakinya di kamarku. Entahlah, menurutku beliau tampak berbeda hari
ini. Atau itu dikarenakan aku jarang bertemu dengannya, aku lihat raut wajahnya
tampak berbahagia kali ini. Matanya kini tertuju lurus pada sesuatu di
belakangku. Aku menoleh. Rupanya dia melihat lukisanku yang tergantung di
dinding kamarku.
“jadi,
kau senang melukis?”, tanyanya “dan itu karyamu?” lanjutnya dengan mata masih
tertuju pada lukisanku.
Aku
hanya mengagguk.
“kau
punya bakat, ku rasa kau bisa memamerkan karyamu di gallery seni di samping
kantor tempatku bekerja”, katanya
Aku
sedikit terkejut.
“bagaimana
bisa ? saya rasa karya saya masih belum pantas untuk di pamerkan”, kataku
sambil tersenyum kecut, aku memang masih belum yakin terhadap karyaku.
“huh,
rupanya kau sangat pesimis”, sahutnya, “boleh aku lihat lukisanmu yang lain?”
tanyanya kemudian.
Aku
berpikir sejenak, ku rasa tak ada salahnya memperlihatkan kepadanya. Aku
mengangguk, kemudian ku tunjukan semua hasil lukisanku yang selama ini ku
simpan di dalam lemari besar kepadanya.
“ini
semua benar – benar bagus untuk pemula sepertimu”, kata Miss.Amberlly sambil
masih mengamati lukisanku satu – persatu. Dia terlihat takjub, tak bisa ku
pungkiri aku bahagia melihatnya menyukai hasil karyaku.
“terima
kasih”, kataku “kau boleh mengambil satu yang paling kau suka, Miss”
“benarkah?”
“tentu”
“ aku
paling suka yang ini” katanya seraya memegang lukisanku yang bergambar sebuah
bunga mawar yang kelopaknya berguguran. “akan ku pajang di ruang baca, kau tak
keberatan, kan?”, tanyanya kepadaku.
“tentu
saja tidak”, justru aku malah akan
bahagia sekali melihat lukisanku akan di pajang oleh orang lain.
“wah,
terima kasih, Anne”, katanya seraya tersenyum.
“terima
kasih kembali”, jawabku. Aku merasa Miss.Amberlly hari ini tidak seperti
biasanya, beliau lebih banyak bicara, biasanya kami hanya bertegur sapa saja
bila bertemu di rumah. Sekarang beliau malah masuk ke kamarku.
“jadi,
apa yang sebenarnya membuat kau datang padaku, miss? Apakah ada tagihan yang
harus saya bayar?”, tanyaku hati – hati.
Beliau
tersenyum padaku.
“apakah
kau ada waktu malam ini? aku ingin kau menemaniku ke suatu tempat”, katanya
sambil tersipu.
“kemana?”
tanyaku.
“kau
akan tau nanti”, bibirnya tampak menyunggingkan senyum lagi, semburat merah
terlihat dari kedua pipinya.
Keningku
berkerut, aku semakin tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi dengan
Miss.Amberlly hari ini.
“bagaimana?”,
tanyanya lagi.
Aku
menganggukkan kepala, aku jarang sekali keluar rumah pada malam hari, ku rasa
tidak ada salahnya bila aku menemaninya malam ini.
“ku
harap kau sudah siap pada pukul 7.30”, katanya seraya melangkah keluar pintu
dengan membawa lukisan yang ku berikan padanya.
***
Julian
And I wonder if I ever cross your mind
for me it happens all the time
Aku
dan Niall baru saja selesai makan malam di salah satu café. Sekarang aku dan Niall
berada di taman yang berada di tepi laut sepanjang jalan, tidak jauh dari café
tempat kami makan. Kota kami memang di kelilingi oleh laut, di salah satu sudut
kota terdapat taman yang indah, di tambah lagi lokasinya yang di tepi laut
membuat taman itu tampak lebih indah. Taman itu selalu terlihat ramai, baik
siang ataupun malam hari. Seperti malam ini banyak orang yang terlihat santai
duduk – duduk sambil menikmati jajanan yang banyak di jual oleh pedagang kaki
lima di taman itu. Sebagian besar dari mereka adalah pasangan muda.
Pelan
– pelan kami menyusuri jalan sepanjang taman sambil mengobrol ngalur ngidul.
Biasanya kami mengamen di sini pada malam hari, tapi malam ini kami tidak
sedang ingin bernyanyi, kami hanya ingin menikmati suasana malam, sudah lama
aku dan Niall tidak jalan – jalan seperti ini.
Kami
tiba di ujung taman, disini agak sepi, kami mengambil tempat duduk, di kursi
yang menghadap ke laut.
“jadi,
wanita yang paling cantik di dunia ini adalah adikmu?”, tanyaku kepada Niall
sambil tertawa mengejeknya, barusan dia bercerita bahwa alasan dia tak pernah
jatuh cinta karena wanita di dunia ini tak ada yang secantik adiknya. Alasan
yang konyol.
“sebenarnya
yang paling cantik setelah adikku adalah ibuku, hanya saja ibu sudah lebih dulu
pergi ke surga”, katanya, raut wajahnya berubah.
Tawaku
terhenti, sedikit iba. Niall memang telah menjadi yatim piatu sejak tiga tahun
ini. setelah orang tuanya tiada, dia dan adiknya di rawat oleh kakek neneknya
yang untungnya cukup berada. Tapi, setahun terakhir ini dia memutuskan untuk
hidup sendiri di kota ini, meninggalkan kota kelahirannya dan keluarga yang
tersisa.
“kalau
begitu, kenalkan lah adikmu yang paling cantik itu padaku”, kataku, mencoba
untuk tidak membiarkannya bersedih karena teringat ibunya kembali. Dia menoleh
kearahku.
“tak
akan ku biarkan adikku bersama dengan lelaki pengecut seperti kau ini”,
tandasnya, sambil tertawa.
Aku
hanya ikut tertawa, seperti menertawakan diri sendiri memang.
Tawa
kami terhenti saat kami melihat sesosok wanita yang datang sendirian, dia
mengambil tempat duduk di kursi tak jauh dari kami duduk. Sesaat aku terdiam,
apakah aku bermimpi atau mungkin aku hanya berhalusinasi, karena akhir – akhir
ini aku selalu memikirkannya. Tapi, ini nyata. Dia benar Anne, kali ini aku
bisa melihatnya dengan jelas, matanya yang menerawang melihat laut, dan tak
menyadari ada aku yang sedang memperhatikannya di sini.
“apa
yang terjadi padamu? Kau melihatnya seperti ingin membunuhnya”, kata – kata
Niall menyadarkanku.
“itu
dia”, bisikku pelan, Niall ikut menoleh kearah Anne. Dia tampak berfikir
sejenak kemudian mengangguk mengerti,
“dia
cantik”, dia juga ikut berbisik.
“lebih
cantik dari adikmu?”, tanyaku.
“adikku
tetap nomor satu”, jawabnya.
Aku
tertawa kecil mendengar jawabannya. Kemudian dia memukul lenganku cukup keras.
Aku merintih.
“pergilah,
hampiri dia”, bisiknya.
Aku
hanya diam, ku lihat Anne masih tidak bergeming, matanya masih menatap lurus ke
laut.
“ayolah,
sebelum dia pergi lagi, ini waktu yang sangat bagus”, tambah Niall.
***
Anne
Walaupun
usianya sudah tak muda lagi, bahagia rasanya melihat Miss.Amberlly akhirnya
memiliki tambatan hati.. Walaupun aku sedikit kesal karena ternyata
Miss.Amberlly hanya meminta aku menemaninya untuk bertemu dengan lelaki itu.
Rupanya dia tak berani untuk pergi menemuinya seorang diri.
Aku
sedikit miris melihat nasibku yang seperti menjadi patung di antara mereka.
Akhirnya ku putuskan untuk meninggalkan mereka berdua, lagi pula mereka
sepertinya menjadi sedikit canggung karena ada aku. Miss.Amberlly sama sekali
tidak keberatan, dia mengatakan akan menghubungiku bila dia ingin pulang.
Di
sini lah aku sekarang, di taman yang tak jauh dari café tempat Miss.Amberlly
dengan pasangannya bertemu. Tak ada yang bisa ku lakukan hanya menikmati
suasana malam di tepi laut. Ku rasa memilih tempat ini untuk menunggu
Miss.Ambelly sama sekali tak buruk.
Lamunanku
buyar saat seorang pria yang duduk tak jauh dariku datang menghampiriku. Aku
terlonjak saat melihat wajah pria itu yang kini telah duduk di sampingku.
“ kau?
apa yang kau lakukan disini?”, tanyaku sedikit gugup.
“hanya
berjalan – berjalan, bersama teman”, katanya seraya menunjuk ke arah temannya
yang duduk tak jauh dari kami. Dia melambai ke arah kami seraya tersenyum, dia
yang mengamen bersama Julian tadi siang.
“kau
sendiri?”, tanyanya kemudian.
“hanya
menunggu seseorang”, jawabku.
“kau
sedang menunggu seseorang? Apakah aku mengganggumu saat ini? haruskah aku
kembali ke tempat duduk ku semula?”, tanyanya bertubi – tubi.
“oh,
tidak”, jawabku datar. Aku bingung harus berkata apa padanya.
“mungkin
sebelum orang yang kau tunggu datang, sebaiknya aku harus kembali”, katanya
kemudian.
Ah,
no! jangan pergi. Sepertinya dia salah paham.
“seseorang
yang ku tunggu tak akan datang kesini, aku hanya menunggu dia menghubungiku”,
kataku cepat. Aku tidak ingin dia pergi.
“sebenarnya
siapa yang kau tunggu?”, tanyanya.
“Miss.Amberlly”,
jawabku jujur.
Dia
manggut – manggut. “ada hubungan apa sebenarnya kau dengannya? Apakah dia
keluargamu?”, tanyanya lagi.
“aku
hanya mengontrak di rumahnya”, jawabku, “kau kenal dengannya?”, tanyaku kemudian.
“tentu
saja, aku bertetangga dengannya sejak aku lahir”, katanya “tapi, aku hampir
tidak pernah berbicara padanya”,
“ya,
dia jarang berada di rumah”, sahutku.
Tiba
– tiba obrolan kami terhenti saat teman Julian datang menghampiri kami. Dia
duduk tepat di samping Julian.
“tak
bisa kah kalian mengajakku bergabung? aku hampir mati bosan di sana sendirian”,
katanya.
Aku
dan Julian tertawa. Kemudian Julian memperkenalkan temannya itu kepadaku. Namanya
Niall. Untuk pertama kalinya aku menikmati suasana seperti ini. Dalam hati aku
berharap semoga Miss.Amberlly tidak menghubungiku dalam waktu yang cepat.
***
Julian
Aku
merasa Tuhan mengabulkan doaku. Hari demi hari aku menjadi semakin dekat dengan
Anne. Tak apa walau hanya sekedar teman, tapi aku sudah sangat senang sekali
bisa menegurnya tiap kali bertemu tanpa rasa sungkan seperti dulu.
Aku
menjadi mengetahui tentang Anne lebih banyak lagi, dia sering bercerita tentang
ibunya, tentang lukisan, tentang kampus, segalanya. Satu hal yang sangat ku
sukai, Anne tak mempunyai teman dekat selain aku. Itu yang membuatku merasa
sedikit special untuknya. Dia memang tipe orang yang sedikit sulit untuk
bergaul dengan orang lain. Terlebih lagi dia banyak tertawa bila bersamaku,
sangat berbeda dengan Anne sebelum aku mengenalnya dulu. Ternyata dia lebih
menarik ketika aku mengenalnya.
epilog
Anne
Aku
tersenyum puas menyaksikan karyaku yang baru selesai saja ku buat.
“bagus
sekali, nak”, kata seseorang di belakangku. Aku menoleh. Terlihat Mrs.Frida
menghampiriku, seraya di tangannya terdapat kopi panas dan kue kering. Dia
meletakkannya di atas meja kecil di samping peralatan lukisku.
“terima
kasih, bi”, kataku kepada Mrs.Frida. Wanita setengah baya itu mengangguk.
“kau
sudah bisa membuka gallery lima menit lagi dan tolong taruh lukisan ini di
ruang tengah, bi”, kataku lagi seraya menyerahkan lukisan yang baru selesai ku
buat padanya dengan hati – hati.
“baiklah
nak”, kata Mrs.Frida “wah, tampan sekali dia”, katanya lagi seraya
memperhatikan lukisanku lekat – lekat.
Aku
hanya tersenyum, tak terasa sudah lebih dari setahun sejak aku memutuskan untuk
kembali ke kota kelahiranku dan meninggalkan kuliahku.
Masih
ku ingat dengan lekat hari itu. Saat dimana aku mulai merasakan sesuatu yang
belum pernah ku rasa bersemi dalam hatiku. Tapi, semua itu dalam sekejap sirna
saat aku mendengar kabar itu.
Mataku
kini tertuju pada lukisan yang ku buat sendiri di dinding. Lukisan bergambar
wajah seseorang yang amat ku rindukan. Seseorang yang amat tegar dan kuat.
Seseorang yang belum sempat ku sampaikan padanya bahwa aku amat menyayanginya.
Ibu. Entahlah sampai saat inipun aku masih merasa amat berdosa padanya,
bagaimana bisa aku sebagai putri satu - satunya tak tau menahu tentang penyakit
yang di derita ibu. Beliau memang tak pernah bercerita tentang penyakit kanker
ganasnya padaku. Tak terasa air mataku kini mengalir di pipiku. Aku bahkan tak
sempat menyampaikan salam terakhir untuknya saat itu.
“
apakah kau baik – baik saja, nak?”
Suara
Mrs.Frida menyadarkanku. Aku hanya menyeka air mataku di pipi.
“I’m
fine, auntie”, jawabku seraya tersenyum padanya. “kau sudah membuka gallery ?”,
tanyaku kemudian. Dia mengangguk.
Biip..
biipp… handphone bergetar. Aku mengangkatnya.
“hallo”,
kataku
“hallo,
Anne”, terdengar suara Adeline, wanita muda yang berkerja di floristku.
“iya,
ada apa Adeline?” tanyaku.
“ada
seorang pria yang mencarimu di sini”, katanya.
“siapa?
Apakah dia ingin membeli bunga ? tak bisakah kau melayaninya sendiri?”, kataku.
“tidak,
dia hanya ingin kau yang melayaninya sendiri, katanya dia akan menunggu sampai
kau mau menemuinya di sini”, katanya lagi.
Entahlah,
aku tak tau siapa orang itu. Tapi, aku mulai merasakan gemuruh di dadaku
sekarang.
“apakah
aku mengenalnya ?”, tanyaku kemudian.
“dia
mengatakan mungkin kau sudah lupa padanya”
“siapa
namanya?”
“Julian”
Aku
tak bisa berkata apa – apa, sontak jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya
saat mendengar nama itu.
***