Monday, October 18, 2021

Love and Life

                                                                                                                                      By : Rustiah 
With Big Dash I am only
Able to paint
The sound of
Of emptiness
~Abdul Wahab (The book of my life)

Anne
Daun itu gugur tepat di depan mataku, pelan tak besuara. Hembusan angin perlahan menerpa wajahku. Memang  musim gugur akan segera berakhir, berganti dengan musim dingin. Ah, musim dingin, entahlah aku merasa diriku sama seperti musim itu, dingin dan hampir di benci oleh setiap orang.
Bipp.. biipp.. Dering ponselku membuyarkan lamunanku. Ibuku menelepon.
“hallo sayang, kau sudah bangun ? ”, terdengar suara yang sangat akrab di telingaku.
“ ya mom, seperti yang kau dengar  ”, jawabku.
“ apakah kau sudah mengecek inboxmu? Aku mengirimkan pin pengambilan paket  pagi ini”, katanya.
“ya mom”, jawabku lagi sekenanya.
“ok sayang, jaga kesehatanmu, aku mencintaimu”
“aku juga”
Telepon terputus.
Tak usah di tanya, aku sudah tau apa yang di kirim ibu pagi ini. Entahlah, mungkin hanya ibu yang aku punya di dunia ini, hanya dia satu- satunya orang yang peduli dan menyayangiku. Hingga usiaku 20 tahun, ibu masih saja memperlakukanku seperti anak kecil, aku tidak perlu lagi pusing memikirkan segala kebutuhanku, ibu semua yang mengurusnya. Terkadang aku risih, tapi aku tau itu semua karena ibu menyayangiku. Dan aku juga tak ingin mengecewakannya, terlebih setelah ayah meninggal lima tahun silam, dia bekerja keras memenuhi kebutuhan kami berdua. Dia bekerja sepanjang siang dan malam mengurus floristnya di tengah kota. Memang florist ibu tidak terlalu besar, tapi itu adalah florist terbaik di kota. Dia juga memperkerjakan tiga orang karyawan disana, tapi, dia juga tidak mau menyerahkan semua pekerjaan dengan karyawan, dia lebih senang mengerjakannya seorang diri. Itulah ibu. Terkadang dia egois.
Mataku kembali menerawang, ku langkahkan kaki ke pintu lalu menaikki tangga menuju atap teras kamarku, ini adalah tempat favoritku, di mana aku bisa memandang semuanya dari atas sini, aku berterima kasih sekali pada ibu yang memilihkan rumah sebagai tempat tinggalku. Terlebih untuk orang yang senang menyendiri sepertiku. Sebenarnya bukan aku sendiri yang tinggal di rumah  ini, si pemilik rumah, Miss. Amberlly Bannet tinggal tepat di lantai bawah, dia hanya sendiri. Itulah sebabnya dia menyewakan kamar kosong di lantai atas, beserta kamar mandi dan teras atap.
“anggap saja seperti rumah sendiri, Anne, silahkan pakai dapur dan ruang bacaku”, kata Miss. Amberlly saat aku pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini.
Well,selama ini dia baik kepadaku, walaupun kami tidak banyak bicara. Hanya saja aku heran kenapa dia masih sendiri di usia yang hampir setengah abad ini. Mungkinkah dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya, hingga dia tidak sempat memikirkan untuk menikah. Dia memang jarang sekali berada di rumah.
Dari atap teras ini, aku bisa melihat rumah tepat di sebelah kanan kontrakkanku, rumah itu hampir sama  dengan kontrakanku, hanya saja sedikit lebih besar dan tinggi. Memiliki bentuk minimalis, dinding kaca yang besar namun tidak tembus pandang, memiliki ornament dan sedikit ukiran, berwarna biru muda yang menyerupai abu-abu. Di sebelah kiri rumahku terdapat jalan kecil. Jalan itulah yang hampir tiap hari ku lalui dengan berjalan kaki menuju Louiston Art College, tempat aku belajar Visual Arts selama setahun terahir ini. Jaraknya tidak  jauh, hanya sekitar 200 meter.
Aku melangkah gontai ke arah kursi dan meja di tepi pagar teras. Aku letakkan kanvas serta peralatan lukisku ke atas meja. Tanganku mulai menari – nari di atas kanvas, tidak jelas sebenarnya apa yang ku lukis, hanya mencoret – coret abstrak, menuruti suasasana hati yang kosong. Entahlah, aku merasa melukis adalah duniaku, aku memang bukan orang yang bisa mengungkapkan sesuatu dengan kata – kata ataupun tulisan.
Angin berhembus lagi, dingin. Ku rasa baju tidurku terlalu tipis untuk ku pakai di atas ini. Ku seka rambut panjangku yang menutup wajahku karena tertiup angin. Sesaat ku lirik jam dilenganku, sudah pukul 07.00 am, perlahan ku beranjak menuju dapur. Mencari sesuatu yang bisa menghangatkan dan mengisi perutku. Roti lapis isi daging, dengan lapisan keju di dalamnya serta segelas cokelat panas mungkin cukup untukku. Ya. Masih sama seperti kemarin, hampa dan sepi.
***
I know what seeing is!
As I saw you that day for the first time
So I know what liking is!
~Abdul Wahab (What the love is)


Julian
Ya , dia muncul lagi di teras atapnya. Masih sama seperti kemarin, dia tetap terlihat cantik dengan baju tidur dan rambut terurai begitu. Matanya, ah! Andai aku mengerti arti dari mata sendu itu. Eh, Dia melihat ke arah kamarku, mungkinkah dia melihatku ? ah, konyol, itu tak mungkin. Dinding kacaku tidak tembus pandang dari luar. Ku raih kamera, ku ambil beberapa gambarnya. Well, Lumayan lah, walaupun sedikit tak jelas karena terhalang kaca.
“ Julian !! “, teriak Ibuku.
“Ayolah mom, Ini hari minggu, biarkan aku bersantai ! ”, aku balas berteriak.
Mataku masih tak lepas mengamati gadis itu. Ah, kapan aku bisa berbicara denganmu Anne ? Sudah sekian lama aku mengamatinya dari sini, mengapa tak sekalipun aku berani mengajaknya bicara, bahkan menyapapun aku takut. Jangankan di dunia nyata, di dunia maya untuk sekedar chattingpun aku ciut. Aku jadi ragu, apakah dia mengenalku atau tidak? Jangan – jangan namaku pun dia tak tau. Padahal hampir tiap hari kami bertemu di kampus, saat kebetulan mengambil kelas yang sama dan juga kami sering kebetulan bertemu di jalan menuju kampus. Sebenarnya bukan kebetulan sih, itu karena aku sengaja mengikutinya. Tapi, aku mulai ragu, dia sepertinya memang tak mengenalku. Argh, Julian… mengapa kau menjadi begitu menyedihkan?
Tak lama gadis itu melipatkan tangan ke dadanya, terlihat kedinginan. Rambutnya tertiup angin, sehingga menutupi wajahnya. Ingin rasanya aku ada di situ, merengkuhnya, agar dia tak kedinginan, lalu menyibakkan rambutnya yang menutupi wajah, serta meyakinkannya bahwa dia akan baik – baik saja bersamaku. Ah, pikiranku mulai melantur. Sekarang aku merasa seperti laki – laki yang benar – benar pengecut.
“Apa yang kau lakukan? Apakah kau lupa hari ini kau harus mengantar adikmu ke festival menggambar dan mewarnai di City Hall  ! “
Aku sedikit terkejut, aku baru sadar ternyata  ibu sudah berada di kamarku.
“ Tidak bisakah kau mengantarnya sendiri, mom ? Aku mempunyai hal penting yang harus aku kerjakan mom, please “ , kataku sedikit memelas dan meyeringai nakal.
“ Apakah menurutmu memata – matai seorang gadis itu hal yang lebih penting dari pada mengantar Alice ?”
Aku terdiam dan menertawakan diri sendiri di dalam hati. Ya, aku memang tak lebih hanya seperti mata – mata.
“ Segera turun ke ruang makan, sarapan sudah siap “, tambah Ibu, kemudian melangkah keluar seraya menutup pintu.
Mataku kembali melihat menuju atap teras gadis itu, tetapi sosoknya telah lenyap.
***


If I am not thirsty so why do I have to drink water?
If there is no love in my life so why do I have to stay alive?
~Jena (No Love)
Anne
Ku langkahkan kaki menuju kampus pelan – pelan. Udara pagi ini dingin sekali, ku rapatkan coat di tubuhku yang kemarin baru di kirim Ibu. Jalan terlihat ramai pagi ini, seperti biasa. Hari senin, kembali di mulainya aktivitas, setelah bermalas – malasan saat weekend.
Kampusku tidak jauh, tepatnya pas di sebrang ujung gang kecil ini. kampus sudah terlihat ramai. Lima belas menit lagi, aku harus menghadiri Color and Composition Class. Ku sempatkan untuk mencari minuman hangat dulu di kedai minuman di samping kampus. Tidak begitu ramai, hanya ada tiga orang yang terlihat menikmati minuman serta makanan kecil, seraya sibuk dengan aktifitas mereka masing – masing. Segera ku masuk dan mengambil tempat duduk di pojok depan. Kedai minuman ini tidak luas, tapi memiliki desain yang nyaman dan bersih. Di sini menyediakan beraneka ragam minuman, baik dingin ataupun panas dan juga menyediakan beraneka ragam kue atau makanan kecil. Aku sudah beberapa kali mengunjungi kedai ini.
Sekarang Aku butuh kopi untuk menghangatkan perutku. Segera ku pesan hot latte coffee favoritku, ku sesap dan nikmati pelan – pelan kopiku. Entahlah, aku merasakan kopi ini nikmat sekali saat ini.
“Wah, udaranya dingin sekali ya, musim dingin memang telah tiba”, ku dengar suara seorang pria dari belakangku. Kemudian dia menyambar kursi tidak jauh dariku, “hot cappuccino, please” katanya lagi.
“ya begitulah, sepertinya hujan akan turun hari ini, kau tidak memakai gula, bukan ? “, sahut Mrs. Killian , si pemilik kedai menanggapi pria itu.
“ya , seperti biasa Auntie ”, jawabnya.
Aku melirik sekilas kearah pria itu. Aku merasa tidak asing dengan wajahnya, seperti sering bertemu. Ya, pantas saja sering bertemu, dia pasti kuliah di kampus yang sama denganku. Ku lihat gantungan kunci di ranselnya terdapat logo Music Concentration, salah satu konsentrasi di Louiston Arts College. Dia menoleh ke arahku.
“ Hai!” katanya, seraya tersenyum memamerkan giginya.Aku hanya tersenyum tipis kepadanya. Sedikit malu karena tertangkap memperhatikannya.
Tidak ingin berlama – lama. Aku pun segera menegak sesapan terakhirku dan segera menuju kampus. Aku tidak ingin terlambat, Mr. Robert, dosen Color and Composition paling tidak suka dengan mahasiswa yang terlambat.
Ku periksa tasku sebelum memasuki kelas, aku khawatir aku tidak membawa peralatan gambarku. Aman, tak ada yang tertinggal. Sampai saat ini aku memang belum pernah melakukan hal yang ceroboh, hidupku teratur, Ibu selalu mengajariku untuk selalu waspada dan mempersiapkan segala sesuatu lebih awal.
***
I guess I'm your secret admirer
That name seems to fit just right
I don't know what I like about you
But you're on my mind, day and night

~Mandy (Secret Admirer)
Julian
Aku hanya terbengong menyaksikan kepergian gadis itu dari belakang, dia begitu buru – buru meninggalkan kedai ini. Padahal kami belum sempat mengobrol. Tapi, ini bukan awal yang buruk, setidaknya tadi dia sempat tersenyum kepadaku. Ah, sekian lama aku mengamatinya, tadi adalah pertama kalinya aku melihatnya tersenyum. Tersenyum kepadaku. Senyum yang singkat tapi cukup membuat aku terpana sesaat, manis.
Ku sesap kopiku lamat – lamat. Kalo bukan karena Anne, aku tidak akan mampir ke kedai minuman ini, malangnya diriku, orang yang membuatku kesini, malah meninggalkanku lebih dulu. Mrs. Killian berjalan ke arahku seraya membawa makanan kecil, kemudian dia duduk di kursi tepat  di depanku. Kedai memang sepi kali ini, mungkin itu sebabnya dia berbaik hati menemaniku. 
“ sudahlah, jangan terlalu di pikirkan, wanita seperti dia memang sedikit sulit untuk di taklukan, ini makanlah” kata Mrs.Killian , seraya menyodorkan sepiring wafel.
Sontak aku hampir tersedak kopi karna mendengar perkataan Mrs. Killian barusan. Semudah itukah dia mengetahui apa yang kurasakan.
“ maaf, aku tidak mengerti apa yang kau maksud, auntie “, elakku seraya memalingkan wajahku, aku tak ingin dia melihat wajahku yang kurasa mulai memerah ini.
“ aku ini juga pernah muda ” , kata Mrs. Killian seraya mulai memakan wafel yang di bawanya. “bagaimana kabar Ibumu sekarang? kemarin aku sempat bertemu sebentar saat dia mengantar Alice ke sekolah, tapi kami tidak sempat mengobrol”
Untung dia mengalihkan topik pembicaraan, jadi aku tidak perlu membahas tentang Anne kepadanya. Walaupun aku masih sangat penasaran, bagaimana dia bisa mengetahui perasaanku yang ku pikir hanya aku dan Tuhan yang tau. Aku memang sudah lama mengenal Mrs.Killian, karena dia adalah teman lama Ibuku. Tapi aku baru mengetahui kalau ternyata dia punya bakat membaca perasaan seseorang.
“  Mom baik – baik saja auntie” jawabku.
“ jadi, apakah kau tidak pergi ke kampus ?” tanya  Mrs.Killian lagi.
“ umm,, sebenarnya aku tidak ada jam kuliah hari ini, hanya berjalan – jalan, bosan di rumah”, kataku kikuk, aku tau itu alasan yang sedikit bodoh, bagaimana mungkin aku berjalan – jalan dengan kondisi cuaca yang sangat cocok untuk bermalas – malasan di rumah seperti ini.
Mrs.Killian terkekeh. Terdengar seperti menertawakan kebodohanku, ya tertawakan saja kebodohanku ini, auntie.
***
Some some sweet talk
In the rain
I never think, this is a start        

Anne
“kerja bagus, Anne”, kata Mr.Robert setelah melihat hasil paduan warna di kanvasku. Beliau tadi memberikan tugas di kelas untuk melukis apapun yang ada di pikiran kita. Aku tidak yakin hasil gambarku baik, tapi aku memang melukisnya sepenuh hati, terlihat sedikit abstrak tapi Mr.Robert dengan mudah mengenali bahwa aku telah menggambar pohon kering tanpa daun, di tengah musim dingin.
“terima kasih, sir”, kataku pelan. Mr. Robert kembali berkutat menilai hasil lukisan komposisi para siswa lain.
Aku melangkahkan kaki keluar kelas. Ku lihat langit amat mendung. Teringat kembali percakapan pria dan Mrs.Killian pagi tadi, bahwa akan turun hujan siang ini. Bener saja, mungkin aku akan kehujanan. Karna, aku tidak membawa payung saat ini.
Perlahan ku tinggalkan kampus menyusuri jalan yang terlihat sepi. Rintik – rintik hujan mulai membasahi pakaianku. Salahku tidak membawa payung, padahal sejak tadi pagi tanda – tanda akan turun hujan sudah terlihat.
Tubuhku mulai kedinginan, mungkin sebaiknya aku berteduh dulu di salah satu toko di pinggir jalan. Tapi, ku urungkan niatku, lagi pula rumahku tidak jauh. Aku hanya perlu mempercepat langkahku.
Tiba – tiba ku dengar derap kaki seseorang di belakangku. Kemudian, dia menyelaraskan langkahnya tepat di sampingku. Tiada lagi rintik – rintik hujan membasahi tubuhku. Langkahku terhenti sesaat, kemudian menoleh kearah pria di sampingku. Tatapan kami beradu, dia menyunggingkan senyum. Aku bergeming, dia pria di kedai minuman tadi pagi.
Ku percepat langkahku, setengah berlari. Tapi, pria itu dengan mudah menyusulku.
“ aku tak perlu pertolonganmu”, kataku pelan.
“ aku hanya tidak ingin melihat gadis kedinginan di tengah hujan”, balas pria itu.
Aku hanya diam. Tidak bisa ku pungkiri bahwa aku sedikit berterima kasih kepada pria ini karena  mau berbagi payung denganku.
“lagi pula rumahku searah denganmu” tambahnya lagi seraya tersenyum kepadaku.
“apa maksudmu searah? Apakah kau tau rumahku?” tanyaku kepadanya.
Dia tampak terkejut.
“ kita bertetangga, bukan ?”, dia balik bertanya
“benarkah ?” tanyaku lagi.
Dia menghembuskan nafas berat.
“sudahlah, rupanya kau memang tak mengenalku”, katanya kemudian.
Aku mengerutkan kening, berusaha mencerna maksud perkataannya barusan.
“ah, maksudku kita memang belum berkenalan, bukan?” ralatnya cepat.
Aku masih bergeming.
“Julian”, katanya lagi seraya menjulurkan tangannya di depanku.
Ku sambut tangannya.
“Anne”, kataku singkat.
Sejenak atmosfir diantara kami menjadi sedikit kaku, hening.
“jadi, konsentrasi apa yang kau ambil di LAC?” tanyanya memecah keheningan diantara kami.
“ Visual Arts” , jawabku singkat.
Suasana hening kembali, aku sadar, aku memang bukan orang yang asyik di ajak bicara. Beruntung rumah kontrakkanku telah sampai, jadi aku tak perlu berlama – lama berada di suasana yang tak nyaman ini.
“terima kasih”, kataku kepadanya, dia mengantarku sampai tepat di depan pintu.
“tak perlu berterima kasih”. Jawabnya “rumahku tepat di samping rumahmu”, sambungnya seraya menujuk rumah yang berada di sebelah kanan rumah kontrakkanku.
“oh, pantas wajahmu familiar”, jawabku asal, aku baru mengetahui bahwa dia adalah tetanggaku. Aku memang kurang memperhatikan orang - orang sekitar sini.
“ya, selain tetanggamu, aku juga kuliah di LAC”
“aku tau”
“kau tau?”, nada bicaranya meninggi. “jadi, kau pasti sudah mengenalku sebelumnya”, katanya, terlihat tampak penasaran.
Aku menggeleng , kemudian menunjuk gantungan kunci bergambar logo “Music Concentration of Louston Art College” di ranselnya.
“oh, begitu”, nada bicaranya merendah kembali.
Perubahan ekspresi wajah dan nada suaranya membuatku ingin tertawa. Memangnya mengapa bila aku sudah mengenalnya ataupun belum, apakah itu hal yang penting untuknya.
“baiklah, sampai jumpa, Anne”, katanya seraya melangkah meninggalkanku.
“sampai jumpa”, aku memandang kepergiannya dari belakang. Tak lama dia menengok. Dia tersenyum, seraya melambaikan tangannya. Tanpa sadar, bibirku menyunggingkan senyum. Dia .menyenangkan.
***
Julian
Aku merasa hari ini benar – benar hari keberuntunganku, mimpi apa aku semalam, sehingga aku bisa sepayung berdua dengan Anne. Tidak ada ruginya aku menunggu hingga siang di rumah Niall, setelah minum kopi di kedai Mrs.Killian tadi pagi, aku memutuskan untuk pergi ke rumahnya yang tidak jauh dari kedai Mrs.Killian. Niall teman sekelasku dan juga teman baikku, Dia satu – satunya teman yang tau tentang kisah cintaku yang amat menyedihkan ini, dialah yang telah memberi ide jenius padaku untuk berbagi payung dengan Anne. Bila saja dia tak bekerja malam ini, aku pasti akan mentraktir dia sebagai ucapan terima kasih. Sayang, dia harus bekerja sebagai waiter di sebuah café pada malam hari. Dia memang harus bekerja keras, karena dia harus memenuhi kehidupannya seorang diri. Ayah dan ibunya telah meninggal karena kecelakaan tragis beberapa tahun silam. Dia juga sering mengajakku menjadi penyanyi jalanan di jalan, dan aku sangat menikmatinya, bagiku itu menyenangkan, sekalian menyalurkan hobi.
Diriku masih berbaring di ranjang, menatap langit – langit kamar. Masih terekam jelas moment indah yang terjadi tadi siang. Ku pejamkan mata, mencoba mengulang kisah yang baru saja terlewati.
Aku segera bangkit, meraih gitar kesayanganku yang tersandar di dinding.
Segera ku petik, mencoba memainkan sebuah lagu, untuk Anne.
You were there
in the middle of rain
Alone
I guess you need someone
                                                   Don’t ask me why
                                                   Don’t ask me how
                                                   Coz there’s no reason
                                                   I just do
                                                   Loving you in silent
Tidak buruk, setidaknya lagu ciptaanku bertambah lagi. Siapa tau suatu saat laguku akan laku di pasaran, ya aku dan Niall mempunyai keinginan untuk menjadi penyanyi, kami memang baru menjadi penyanyi jalanan, dan kurasa banyak orang – orang yang menyukai suara kami.
                                                   You were there
                                                   In the middle of rain
                                                   I knew you need somebody
                                                   To keep you warm
                                                   And that somebody is me
Ku pikir jatuh cinta itu tidak buruk, terkadang itu akan menjadi sebuah inspirasi.
***



Anne
Goldrim Park mulai terlihat ramai sekarang, beberapa anak – anak serta orang dewasa datang dan bersantai di taman di tengah kota ini. Aku segera menyelesaikan gambarku, aku sengaja pergi ke taman ini sejak pagi sekali untuk melukis. Aku mengambil objek beberapa bunga di salah satu sudut di taman ini. Terlihat beberapa orang yang lalu lalang berhenti sejenak, sekedar melihat hasil gambarku.
Aku merasa semakin tak nyaman, ku hentikan kegiatan gambarku dan bergegas ku rapikan alat – alat gambarku. Di tengah aku merapikan alat – alat gambarku, terlihat dua orang pemuda datang ke tengah taman. Masing – masing mereka membawa gitar. Salah satu dari pemuda itu terlihat tak asing. Dia pemuda yang beberapa hari lalu menolongku dengan bersedia berbagi payungnya denganku saat hujan. Julian.
Sayup – sayup kudengar, Julian dan temannya mulai memainkan gitar dan bernyanyi, segera ku langkahkan kaki mendekati mereka yang kini mulai di kerumuni oleh beberapa pengunjung.
When you were here before
Couldn’t look you in the eye
You’re just like an angel
Your skin makes me cry
You float like a feather
In a beautiful world
Oh, I wish I was special
You’re so very special
Kini aku berdiri berjarak sekitar lima meter dari mereka. Mataku tertuju kepada Julian yang sedang bernyanyi. Dia tampak sangat menikmati. Dia bernyanyi seraya melempar senyum kepada penonton. Aku merasa dia tampak mempesona bila bernyanyi. Tanpa sadar aku ikut menikmati lagu yang mereka nyanyikan. Aku tau itu sebuah lagu lama dari Radiohead, berjudul creep. Menurutku suara mereka tidak buruk.
But I am creep,
                                                   I am weirdo
                                                   What the hell am I doing here?
                                                   I don’t belong here
Ku lihat, Julian melayangkan pandangannya kepada penonton sekitar, ku rasa tidak lama lagi pandangannya akan tertuju kearahku. Entah mengapa aku merasa seperti tak siap bila dia melihatku. Seperti ada sesuatu di perutku. Aku mulai merasa tak nyaman dan ingin segera pergi dari tempat ini. Tapi, terlambat .Kini, pandangannya tertahan padaku, mata kami beradu. Sontak jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya.
I don’t care if it hurts,
I wanna have a control,
I want a perfect body
I want a perfect soul
I want you to notice
When I’m not around
You’re so very special
I wish I was special
***
Julian
Aku memandang tempat Anne berdiri sebelumnya, tetapi sosoknya telah lenyap. Ku pandangi sekelilingi taman. Nihil. Mungkin dia telah pulang kerumah.
“hey, apa yang kau cari ?”, Niall menepuk pundakku.
Aku hanya menggeleng. Tak bisa di pungkiri aku masih berharap akan menemukan sosoknya di tengah keramaian ini. Niall ikut memandangi sekitar taman.
“kau sendiri, apa yang kau cari?”, tanyaku kemudian.
“mencari apa yang kau cari”, jawabnya asal.
Aku tertawa masam. Aku beranjak, menggendong gitarku.
“ ayolah, ketempat selanjutnya”, kataku.
“apakah dia ada disini?, tanyanya seraya tersenyum menggodaku.
“dia, siapa?”, tanyaku pura – pura tak mengerti.
Niall tak menjawab, hanya melengos lalu pergi mendahuluiku. Aku segera menyusulnya.
“dia tadi melihat kita bernyanyi”, kataku kemudian seraya menyelarasi langkahnya.
“apa yang dia lakukan di sini?”, tanya Niall.
“entahlah”, jawabku.
Sekilas terbayang wajahnya saat tatapan antara aku dan dia beradu. Entahlah, aku merasakan debaran yang lebih hebat dari biasanya. Mungkinkah aku benar – benar menyukainya? Ah, Kami bahkan pernah berbicara hanya sekali.
“apa yang kau pikirkan? wajahmu memerah”, kata Niall, seraya tertawa melihatku.
“apakah ini lucu?”, tanyaku.
“ayolah, jangan terlalu di anggap serius”, katanya lagi, seraya merangkulku.
“aku hanya tak mengerti akan perasaanku sendiri”, kataku kemudian.
Tawa Niall bertambah keras.
“berhentilah tertawa, sebelum aku membunuhmu”, kataku kesal.
“berhentilah jadi pengecut, mulailah dekati dia”, kata Niall, setelah berhenti tertawa.
Aku hanya diam, malas menanggapi perkataan Niall.

***
Anne

Even I am in love
With a person I don’t really know
I don’t know how, I don’t know why
I just did

Ku coba untuk menepis bayang – banyangnya yang selalu melintas di benakku. Tapi, rupanya bayangnya begitu betah bersarang di dalam pikiranku. Di teras atapku, ku susun peralatan lukisku, mulai melukis apa yang ada di benakku.
Tanganku mulai menari liar di atas kanvas, aku tak tau persis apa yang ku gambar, hanya mengikuti kemauan hati. Seraya membayangkan sepasang mata yang memandangku ditaman siang tadi. Ah, wajarkah ini?
Kemudian, aku mendengar suara berisik dua orang pria tepat di jalan didepan rumah.
“biar aku saja yang mentraktirmu malam ini”
“dengan senang hati, mate ”, terdengar suara tawa yang cukup keras.
Aku menoleh kebawah, sepertinya aku mengenal salah satu dari suara itu.
“ berhentilah tertawa seperti itu, tidak ada yang lucu”
Kembali ku rasakan desir aneh itu saat melihat sosoknya.
“bagiku, kau lucu”, kata temannya yang tak kukenal itu, sambil tertawa lagi.
Dari atas sini, ku lihat Julian  memasuki rumahnya bersama temannya. Suasana pun kembali hening. Biip.. biip.. ponselku berdering, ibuku menelepon.
“Hallo, mom”
“hallo sayang, bagaimana keadaanmu di sana?”
“baik mom”
“pakailah pakaian tebal bila berangkat kuliah, kau tau cuaca sangat dingin”, seperti biasa, ibu mulai berceloteh.
“ayolah, mom, aku bukan anak kecil lagi”, kataku sedikit kesal.
Ibu tidak peduli, beliau tetap menceramahiku di telepon. Tidak ada pilihan lain selain hanya mendengarkan dan mengatakan ya kepadanya.
“mungkin ibu tak akan sering – sering menghubungimu lagi, mulai minggu ibu akan banyak sekali hal yang harus di selesaikan”
aku tertegun, bukankah sejak awal kau memang sudah sibuk, mom?
“mom, kau tak harus bekerja terlalu keras”
“ibu melakukannya dengan senang hati, sayang”
Aku terdiam, tak tau harus bagaimana menghadapi ibuku yang amat keras kepala ini.
“ok, jagalah selalu kesehatanmu, aku menyayangimu”
Belum sempat aku menjawab, telepon sudah terputus.
Ibu… sudah lama aku tak melihat sosok cerewet itu. Sosok yang yang tak ingin aku kecewakan dan telah berkerja keras untukku. Ingin rasanya aku membantunya di florist, toh aku tak masalah bila harus berhenti kuliah. Ku rasa aku akan tetap bisa melukis tanpa harus kuliah. Tapi, ibu tidak mau, dia bersikeras menginginkan aku melanjutkan sekolah. Dan aku tak bisa membantahnya.
“Anne!”
Sekejap lamunanku terbuyar mendengar suara wanita memanggil namaku. Suara milik Miss.Amberlly, tumben sekali beliau pulang jam segini. Tidak biasanya pula beliau memanggilku. Segera ku tinggalkan lukisanku yang belum ku selesaikan.
Aku berjalan cepat menuruni tangga, menuju kamarku. Suara Miss.Amberlly masih terdengar memanggilku.
“ya, ada apa Miss.Amberlly?” kataku seraya membuka pintu kamarku, dan mempersilahkannya masuk.
“apa yang kau lakukan?”, tanyanya seraya duduk di kursi tanpa lengan di samping ranjangku.
“maaf, tadi saya sedang melukis di teras atap”, jawabku.
“that’s fine”, sahutnya
Matanya tampak mengamati sekeliling kamarku. Ini pertama kalinya Miss.Amberlly menginjakkan kakinya di kamarku. Entahlah, menurutku beliau tampak berbeda hari ini. Atau itu dikarenakan aku jarang bertemu dengannya, aku lihat raut wajahnya tampak berbahagia kali ini. Matanya kini tertuju lurus pada sesuatu di belakangku. Aku menoleh. Rupanya dia melihat lukisanku yang tergantung di dinding kamarku.
“jadi, kau senang melukis?”, tanyanya “dan itu karyamu?” lanjutnya dengan mata masih tertuju pada lukisanku.
Aku hanya mengagguk.
“kau punya bakat, ku rasa kau bisa memamerkan karyamu di gallery seni di samping kantor tempatku bekerja”, katanya
Aku sedikit terkejut.
“bagaimana bisa ? saya rasa karya saya masih belum pantas untuk di pamerkan”, kataku sambil tersenyum kecut, aku memang masih belum yakin terhadap karyaku.
“huh, rupanya kau sangat pesimis”, sahutnya, “boleh aku lihat lukisanmu yang lain?” tanyanya kemudian.
Aku berpikir sejenak, ku rasa tak ada salahnya memperlihatkan kepadanya. Aku mengangguk, kemudian ku tunjukan semua hasil lukisanku yang selama ini ku simpan di dalam lemari besar kepadanya.
“ini semua benar – benar bagus untuk pemula sepertimu”, kata Miss.Amberlly sambil masih mengamati lukisanku satu – persatu. Dia terlihat takjub, tak bisa ku pungkiri aku bahagia melihatnya menyukai hasil karyaku.
“terima kasih”, kataku “kau boleh mengambil satu yang paling kau suka, Miss”
“benarkah?”
“tentu”
“ aku paling suka yang ini” katanya seraya memegang lukisanku yang bergambar sebuah bunga mawar yang kelopaknya berguguran. “akan ku pajang di ruang baca, kau tak keberatan, kan?”, tanyanya kepadaku.
“tentu saja tidak”,  justru aku malah akan bahagia sekali melihat lukisanku akan di pajang oleh orang lain.
“wah, terima kasih, Anne”, katanya seraya tersenyum.
“terima kasih kembali”, jawabku. Aku merasa Miss.Amberlly hari ini tidak seperti biasanya, beliau lebih banyak bicara, biasanya kami hanya bertegur sapa saja bila bertemu di rumah. Sekarang beliau malah masuk ke kamarku.
“jadi, apa yang sebenarnya membuat kau datang padaku, miss? Apakah ada tagihan yang harus saya bayar?”, tanyaku hati – hati.
Beliau tersenyum padaku.
“apakah kau ada waktu malam ini? aku ingin kau menemaniku ke suatu tempat”, katanya sambil tersipu.
“kemana?” tanyaku.
“kau akan tau nanti”, bibirnya tampak menyunggingkan senyum lagi, semburat merah terlihat dari kedua pipinya.
Keningku berkerut, aku semakin tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi dengan Miss.Amberlly hari ini.
“bagaimana?”, tanyanya lagi.
Aku menganggukkan kepala, aku jarang sekali keluar rumah pada malam hari, ku rasa tidak ada salahnya bila aku menemaninya malam ini.
“ku harap kau sudah siap pada pukul 7.30”, katanya seraya melangkah keluar pintu dengan membawa lukisan yang ku berikan padanya.
***


Julian

And I wonder if I ever cross your mind
for me it happens all the time

Aku dan Niall baru saja selesai makan malam di salah satu café. Sekarang aku dan Niall berada di taman yang berada di tepi laut sepanjang jalan, tidak jauh dari café tempat kami makan. Kota kami memang di kelilingi oleh laut, di salah satu sudut kota terdapat taman yang indah, di tambah lagi lokasinya yang di tepi laut membuat taman itu tampak lebih indah. Taman itu selalu terlihat ramai, baik siang ataupun malam hari. Seperti malam ini banyak orang yang terlihat santai duduk – duduk sambil menikmati jajanan yang banyak di jual oleh pedagang kaki lima di taman itu. Sebagian besar dari mereka adalah pasangan muda.
Pelan – pelan kami menyusuri jalan sepanjang taman sambil mengobrol ngalur ngidul. Biasanya kami mengamen di sini pada malam hari, tapi malam ini kami tidak sedang ingin bernyanyi, kami hanya ingin menikmati suasana malam, sudah lama aku dan Niall tidak jalan – jalan seperti ini.
Kami tiba di ujung taman, disini agak sepi, kami mengambil tempat duduk, di kursi yang menghadap ke laut.
“jadi, wanita yang paling cantik di dunia ini adalah adikmu?”, tanyaku kepada Niall sambil tertawa mengejeknya, barusan dia bercerita bahwa alasan dia tak pernah jatuh cinta karena wanita di dunia ini tak ada yang secantik adiknya. Alasan yang konyol.
“sebenarnya yang paling cantik setelah adikku adalah ibuku, hanya saja ibu sudah lebih dulu pergi ke surga”, katanya, raut wajahnya berubah.
Tawaku terhenti, sedikit iba. Niall memang telah menjadi yatim piatu sejak tiga tahun ini. setelah orang tuanya tiada, dia dan adiknya di rawat oleh kakek neneknya yang untungnya cukup berada. Tapi, setahun terakhir ini dia memutuskan untuk hidup sendiri di kota ini, meninggalkan kota kelahirannya dan keluarga yang tersisa.
“kalau begitu, kenalkan lah adikmu yang paling cantik itu padaku”, kataku, mencoba untuk tidak membiarkannya bersedih karena teringat ibunya kembali. Dia menoleh kearahku.
“tak akan ku biarkan adikku bersama dengan lelaki pengecut seperti kau ini”, tandasnya, sambil tertawa.
Aku hanya ikut tertawa, seperti menertawakan diri sendiri memang.
Tawa kami terhenti saat kami melihat sesosok wanita yang datang sendirian, dia mengambil tempat duduk di kursi tak jauh dari kami duduk. Sesaat aku terdiam, apakah aku bermimpi atau mungkin aku hanya berhalusinasi, karena akhir – akhir ini aku selalu memikirkannya. Tapi, ini nyata. Dia benar Anne, kali ini aku bisa melihatnya dengan jelas, matanya yang menerawang melihat laut, dan tak menyadari ada aku yang sedang memperhatikannya di sini.
“apa yang terjadi padamu? Kau melihatnya seperti ingin membunuhnya”, kata – kata Niall menyadarkanku.
“itu dia”, bisikku pelan, Niall ikut menoleh kearah Anne. Dia tampak berfikir sejenak kemudian mengangguk mengerti,
“dia cantik”, dia juga ikut berbisik.
“lebih cantik dari adikmu?”, tanyaku.
“adikku tetap nomor satu”, jawabnya.
Aku tertawa kecil mendengar jawabannya. Kemudian dia memukul lenganku cukup keras. Aku merintih.
“pergilah, hampiri dia”, bisiknya.
Aku hanya diam, ku lihat Anne masih tidak bergeming, matanya masih menatap lurus ke laut.
“ayolah, sebelum dia pergi lagi, ini waktu yang sangat bagus”, tambah Niall.
***

Anne
Walaupun usianya sudah tak muda lagi, bahagia rasanya melihat Miss.Amberlly akhirnya memiliki tambatan hati.. Walaupun aku sedikit kesal karena ternyata Miss.Amberlly hanya meminta aku menemaninya untuk bertemu dengan lelaki itu. Rupanya dia tak berani untuk pergi menemuinya seorang diri.
Aku sedikit miris melihat nasibku yang seperti menjadi patung di antara mereka. Akhirnya ku putuskan untuk meninggalkan mereka berdua, lagi pula mereka sepertinya menjadi sedikit canggung karena ada aku. Miss.Amberlly sama sekali tidak keberatan, dia mengatakan akan menghubungiku bila dia ingin pulang.
Di sini lah aku sekarang, di taman yang tak jauh dari café tempat Miss.Amberlly dengan pasangannya bertemu. Tak ada yang bisa ku lakukan hanya menikmati suasana malam di tepi laut. Ku rasa memilih tempat ini untuk menunggu Miss.Ambelly sama sekali tak buruk.
Lamunanku buyar saat seorang pria yang duduk tak jauh dariku datang menghampiriku. Aku terlonjak saat melihat wajah pria itu yang kini telah duduk di sampingku.
“ kau? apa yang kau lakukan disini?”, tanyaku sedikit gugup.
“hanya berjalan – berjalan, bersama teman”, katanya seraya menunjuk ke arah temannya yang duduk tak jauh dari kami. Dia melambai ke arah kami seraya tersenyum, dia yang mengamen bersama Julian tadi siang.
“kau sendiri?”, tanyanya kemudian.
“hanya menunggu seseorang”, jawabku.
“kau sedang menunggu seseorang? Apakah aku mengganggumu saat ini? haruskah aku kembali ke tempat duduk ku semula?”, tanyanya bertubi – tubi.
“oh, tidak”, jawabku datar. Aku bingung harus berkata apa padanya.
“mungkin sebelum orang yang kau tunggu datang, sebaiknya aku harus kembali”, katanya kemudian.
Ah, no! jangan pergi. Sepertinya dia salah paham.
“seseorang yang ku tunggu tak akan datang kesini, aku hanya menunggu dia menghubungiku”, kataku cepat. Aku tidak ingin dia pergi.
“sebenarnya siapa yang kau tunggu?”, tanyanya.
“Miss.Amberlly”, jawabku jujur.
Dia manggut – manggut. “ada hubungan apa sebenarnya kau dengannya? Apakah dia keluargamu?”, tanyanya lagi.
“aku hanya mengontrak di rumahnya”, jawabku, “kau kenal dengannya?”, tanyaku kemudian.
“tentu saja, aku bertetangga dengannya sejak aku lahir”, katanya “tapi, aku hampir tidak pernah berbicara padanya”,
“ya, dia jarang berada di rumah”, sahutku.
Tiba – tiba obrolan kami terhenti saat teman Julian datang menghampiri kami. Dia duduk tepat di samping Julian.
“tak bisa kah kalian mengajakku bergabung? aku hampir mati bosan di sana sendirian”, katanya.
Aku dan Julian tertawa. Kemudian Julian memperkenalkan temannya itu kepadaku. Namanya Niall. Untuk pertama kalinya aku menikmati suasana seperti ini. Dalam hati aku berharap semoga Miss.Amberlly tidak menghubungiku dalam waktu yang cepat.
***
Julian
Aku merasa Tuhan mengabulkan doaku. Hari demi hari aku menjadi semakin dekat dengan Anne. Tak apa walau hanya sekedar teman, tapi aku sudah sangat senang sekali bisa menegurnya tiap kali bertemu tanpa rasa sungkan seperti dulu.
Aku menjadi mengetahui tentang Anne lebih banyak lagi, dia sering bercerita tentang ibunya, tentang lukisan, tentang kampus, segalanya. Satu hal yang sangat ku sukai, Anne tak mempunyai teman dekat selain aku. Itu yang membuatku merasa sedikit special untuknya. Dia memang tipe orang yang sedikit sulit untuk bergaul dengan orang lain. Terlebih lagi dia banyak tertawa bila bersamaku, sangat berbeda dengan Anne sebelum aku mengenalnya dulu. Ternyata dia lebih menarik ketika aku mengenalnya.






epilog
Anne
Aku tersenyum puas menyaksikan karyaku yang baru selesai saja ku buat.
“bagus sekali, nak”, kata seseorang di belakangku. Aku menoleh. Terlihat Mrs.Frida menghampiriku, seraya di tangannya terdapat kopi panas dan kue kering. Dia meletakkannya di atas meja kecil di samping peralatan lukisku.
“terima kasih, bi”, kataku kepada Mrs.Frida. Wanita setengah baya itu mengangguk.
“kau sudah bisa membuka gallery lima menit lagi dan tolong taruh lukisan ini di ruang tengah, bi”, kataku lagi seraya menyerahkan lukisan yang baru selesai ku buat padanya dengan hati – hati.
“baiklah nak”, kata Mrs.Frida “wah, tampan sekali dia”, katanya lagi seraya memperhatikan lukisanku lekat – lekat.
Aku hanya tersenyum, tak terasa sudah lebih dari setahun sejak aku memutuskan untuk kembali ke kota kelahiranku dan meninggalkan kuliahku.
Masih ku ingat dengan lekat hari itu. Saat dimana aku mulai merasakan sesuatu yang belum pernah ku rasa bersemi dalam hatiku. Tapi, semua itu dalam sekejap sirna saat aku mendengar kabar itu.
Mataku kini tertuju pada lukisan yang ku buat sendiri di dinding. Lukisan bergambar wajah seseorang yang amat ku rindukan. Seseorang yang amat tegar dan kuat. Seseorang yang belum sempat ku sampaikan padanya bahwa aku amat menyayanginya. Ibu. Entahlah sampai saat inipun aku masih merasa amat berdosa padanya, bagaimana bisa aku sebagai putri satu - satunya tak tau menahu tentang penyakit yang di derita ibu. Beliau memang tak pernah bercerita tentang penyakit kanker ganasnya padaku. Tak terasa air mataku kini mengalir di pipiku. Aku bahkan tak sempat menyampaikan salam terakhir untuknya saat itu.
“ apakah kau baik – baik saja, nak?”
Suara Mrs.Frida menyadarkanku. Aku hanya menyeka air mataku di pipi.
“I’m fine, auntie”, jawabku seraya tersenyum padanya. “kau sudah membuka gallery ?”, tanyaku kemudian. Dia mengangguk.
Biip.. biipp… handphone bergetar. Aku mengangkatnya.
“hallo”, kataku
“hallo, Anne”, terdengar suara Adeline, wanita muda yang berkerja di floristku.
“iya, ada apa Adeline?” tanyaku.
“ada seorang pria yang mencarimu di sini”, katanya.
“siapa? Apakah dia ingin membeli bunga ? tak bisakah kau melayaninya sendiri?”, kataku.
“tidak, dia hanya ingin kau yang melayaninya sendiri, katanya dia akan menunggu sampai kau mau menemuinya di sini”, katanya lagi.
Entahlah, aku tak tau siapa orang itu. Tapi, aku mulai merasakan gemuruh di dadaku sekarang.
“apakah aku mengenalnya ?”, tanyaku kemudian.
“dia mengatakan mungkin kau sudah lupa padanya”
“siapa namanya?”
“Julian”
Aku tak bisa berkata apa – apa, sontak jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya saat mendengar nama itu.
***







No comments:

Post a Comment