Oleh : Rustia Zafira
Garis dua terlihat jelas pada test pack. Entah harus sedih atau bahagia. Ini rizki dari Allah, aku tahu itu. Rizki harusnya membawa bahagia, tapi mengapa aku tidak?
Kulihat anakku yang bahkan masih belajar merangkak. Usianya belum genap delapan bulan. Dia kini merengek-rengek minta susu. Namun, aku hanya menatapnya seakan tak mendengar rengekkannya.
“Gimana hasilnya?” Suamiku masuk, seraya menggendong Nabil, anak kami yang semakin keras merengek.
“Aku belum siap, Mas.” Akhirnya tangis yang sedari tadi kutahan, keluar jua.
“Nabil masih terlalu kecil. Kamu juga belum dapat kerja lagi, ‘kan? Mau kita kasih makan apa anak kita?” kataku tak kuasa menahan sesak.
“Astaghfirullah, istighfar, Dek.” Suamiku bingung harus menenangkan siapa. Anak dan istrinya sama-sama menangis kencang.
Akhirnya Mas Haris, suamiku, meninggalkanku sendiri di dalam kamar. Membiarkanku menenangkan diri. Aku hanya menangis sembari beristigfhar. Walau bagaimanapun aku tahu ini rizki, hanya saja aku merasa waktunya tak tepat. Kenapa harus sekarang, Ya Allah?
***
Aku terbangun karena alunan suara adzan di masjid. Aku melihat jam dinding menunjukkan pukul setengah satu kurang. Kulihat di sampingku berbaring sang buah hati yang tadi sempat kuabaikan sedang tertidur pulas. Aku menciumi wajahnya, ada sedikit rasa bersalah dalam dada. Akupun keluar kamar mencari Mas Haris.
“Sudah bangun?” tanyanya seraya memakai kopiah, bersiap-siap akan pergi ke masjid.
Aku hanya mengangguk.
“Alhamdulillah, Dek. Ini rizki dari Allah buat kita. Soal uang kamu tak perlu khawatir. Pasti akan ada jalannya.”
Aku hanya diam. Mencoba merenungi kata-kata Mas Haris. Benar, aku seharusnya tak perlu khawatir.
***
Aku duduk di ruang tunggu dokter kandungan. Mas Haris asyik menggendong Nabil sambil menunjukkan gambar-gambar poster pembentukan janin hingga menjadi bayi yang siap dilahirkan di dinding rumah sakit. Hari ini tepat sebulan sejak aku mengecek kehamilan manual menggunakan test pack. Aku dan Mas Haris memutuskan untuk memeriksakan kandunganku.
“Mbak, hamil anak kedua, ya?” Aku dikejutkan oleh pertanyaan seorang ibu yang juga sedang menunggu di sebelahku.
“Iya, Bu.” jawabku seraya tersenyum. Usianya sekitar sepuluh tahun lebih tua dariku, oleh sebab itu aku memanggilnya ibu.
“Kalau Ibu?” Aku balik bertanya.
“Saya belum hamil, ini hanya ingin konsultasi sama Dokter Aliya,” katanya.
“Maaf, konsultasi apa ya, Bu?” Aku tak mengerti.
“Jadi, sebenarnya saya belum pernah hamil sejak sepuluh tahun menikah, Mbak.”
Aku manggut-manggut mengerti. Tiba-tiba teringat akan diriku yang kemarin sempat tak menginginkan janin dalam perutku.
“Ya, saya cuma mau periksa aja sih, Mbak. Sebernarnya ada apa, kenapa kok belum bisa hamil. Suami saya juga akan diperiksa,” katanya dengan senyum yang tak luput dari bibirnya.
Ah, seketika aku merasa hina. Kenapa aku tak pernah berpikir akan mereka yang betapa merindukan sang buah hati? Ternyata aku amat egois.
“Kalau memang jalannya harus melalui bayi tabung, kami rela, Mbak. Yang penting kami bisa punya anak.” katanya lagi.
“Semoga diberi jalan oleh Allah agar segera mempunyai keturunan, ya, Bu.” kataku akhirnya setelah dia bercerita panjang lebar.
Aku bingung harus berkata apa. Seketika lidahku kelu. Aku begitu merasa bersalah, pada janinku dan juga pada Allah. Seharusnya aku tak perlu khawatir soal harta. Begitu banyak yang rela mengeluarkan uang yang tak sedikit agar bisa mempunyai keturunan. Mengapa aku yang diberi dengan mudahnya malah tak bersyukur? Oh, Allah, maafkan aku.
Bpp, 23-09-19
No comments:
Post a Comment