Dibuang sayang. Tulisanku waktu ikut event menulis teenlit religi pada tahun 2019.
Judul : Seragam Kesayangan
Oleh : Rustia Zafira
Aku mematut pantulan diri di cermin. Berputar bak model, sesekali memperbaiki sisi kerudung yang miring. Kata teman-teman wajahku cantik, entah itu benar apa tidak. Mungkin benar. Terbukti teman-teman cowok yang sering menggoda dan minta dijadikan pacar. Ih, ogah! Mereka sih bukan levelku.
“Bila, kamu pakai baju yang lama?” ujar Ibu ketika kududuk di ruang tamu.
Aku hanya mengangguk, sambil melahap pisang goreng yang tersedia di atas meja.
“Malas, Bu. Kayak orang-orangan sawah kalau Bila pakai seragam baru itu.” sahutku dengan mulut yang penuh.
“Ya, tapi ini ‘kan terlalu ketat, Bil. Kamu udah baligh lho. Gak baik pakai baju begitu. Aurat!”
Ibu selalu begitu, senang sekali mengomentariku. Entah komentar baju kesempitan atau jilbab yang kependekan. Kemarin lusa Ibu baru membelikanku seragam yang besarnya hampir dua kali lipat tubuhku. Ya ampun, aku benar-benar tak suka pakai baju itu. Lebih nyaman pakai baju ketat begini. Jadi terlihat dewasa, menurutku.
Dengan cepat kuhabiskan pisang goreng dan segelas susu hangat yang disediakan ibu. Lalu, bergegas ke teras.
“Nanti aja ya, Bu. Pas kelas tiga baru Bila pakai.” kataku sembari memasang sepatu.
“Kelamaan, ganti sekarang!” Ibu bersikeras.
Seperti biasa kalau sudah begini, aku harus menggunakan jurus andalan.
“Nggak bisa, Bu. Nanti Bila telat.” Dengan cepat kugamit lengan kurus Ibu yang sedang berdiri di depan pintu. Kucium dengan cepat dan segera mengambil langkah seribu ke jalan menuju sekolah yang tak terlalu jauh.
“Bila berangkat. Assalamualaikum!” teriakku.
Samar-samar terdengar Ibu masih mengomel. Aku hanya berjalan cepat tanpa menoleh. Maaf ya, Bu. Walaupun aku amat malas mendengar omelan Ibu, tapi putrimu ini tetap sayang, kok. Sumpah!
***
“Nah, gitu dong, Cantik! Gak kayak kemarin,” Tiba-tiba Reno lewat, dan menarik ujung kerudungku dari belakang.
“Apaan sih tarik-tarik!!” teriakku kesal.
Dia berlari masuk ke kelas sambil tertawa. Aku hanya bersungut sambil berjalan masuk ke kelas dan menuju kursi deretan tengah.
“Bil, ada salam dari Kak Bayu,” kata Laura saat aku baru saja duduk di kursi.
“Buatmu aja salamnya!” sahutku asal. Aku mengeluarkan buku pelajaran untuk jam pertama dari dalam tas dan meletakkannya di atas meja. Laura, gadis yang duduk di depanku itu merengut.
“Kamu mah gitu. Kamu ‘kan tau sendiri dia orangnya gimana.”
“Nggak peduli aku mah! Sekali gak suka, tetap gak suka!” Kuucapkan kata ‘gak suka’ dengan penuh penekanan. Sengaja. Biar Laura paham kalau aku serius. Malas banget deh, punya pacar macam Kak Bayu. Memang sih ganteng, tapi tingkahnya buat enek. Preman cap tikus! Suka malak, candu rokok, kerjaannya bolos mulu pula.
“Ya udah, gak usah marah-marah juga keless. Tapi, kamu hati-hati loh, Bil. Aku khawatir dia akan nekat kalau kamu tolak dia terus.” Gadis jangkung itu beranjak meninggalkanku.
“Bodo’ amat!” gumamku cuek.
Tak lama kemudian, Shinta teman yang duduk di sebelahku datang.
“Tumben duluan aku,” kataku.
“Agak kesiangan tadi, hehe,” Dia nyengir.
“Ih, kenapa kamu gak pakai baju yang kemarin aja, Bil.” Shinta kini memandangiku dari atas sampai bawah. Seakan-akan gadis yang di depannya ini adalah makhluk aneh. Lebay deh. Kan biasanya aku juga pakai baju ini.
“Malas,” sahutku. Sebal! Shinta juga jadi kayak Ibu.
“Kamu terlihat seksi banget kalau pakai baju ini,” bisik Shinta. “Maaf, ya. Lekuk tubuhmu jadi terbentuk banget, Bil” lanjutnya sambil memberi isyarat yang aku paham maksudnya.
“Tapi, kan aku udah tutup pakai jilbab.” jawabku juga sambil berbisik.
“Jilbabmu mah kecil!”
“Masa sih?” Kuperhatikan ujung jilbabku yang berbentuk segitiga. Memang sih gak menutup sempurna. Tapi, menurutku ini sudah cukup. Dari pada gak pakai jilbab sama sekali, ‘kan?
“Serius, Bil. Coba kamu liat tu, Doni dan Iqbal liatin kamu terus.” Shinta berbisik lagi.
Aku melihat ke arah yang dimaksud Shinta. Iya, mereka memang melihat ke arahku, sih.
“Apa liat-liat?” Aku melotot.
Mereka tidak menjawab, malah tertawa. Bikin kesal jadinya.
“Kamu ‘kan tau sendiri, mereka diam-diam suka nonton film gak bener. Kalau kamu jadi bahan imajinasi mereka, gimana?”
“Ih, Na’udzubillah!” Aku bergidik ngeri, amit-amit jabang bayi!
“Makanya besok jangan lagi pakai baju ini. Padahal udah bagus pakai baju yang kemarin.” Shinta masih saja mengoceh.
“Udah, deh. Kamu jangan ceramah terus. Berisik!” kataku kesal.
Teman yang paling dekat denganku itu kini diam sambil merengut.
Ah, gara-gara ceramah Shinta membuat kumerasa tak nyaman. Seolah-olah diriku diperhatikan oleh para teman laki-laki. Padahal ‘kan belum tentu. Aku saja yang terlalu khawatir. Bahkan sampai jam pulang tiba pun, aku tak bisa menangkap pelajaran dengan baik.
***
Keesokan harinya, seragam lamaku tercinta masih terpasang di tubuhku . Setelah drama pagi sebelum berangkat sekolah, akhirnya aku meninggalkan rumah dengan ibu yang mengomel lebih panjang dari kemarin.
Sebenarnya tadi pagi, aku sudah mencoba memakai seragam baru itu. Namun, ternyata diri ini tak cukup percaya diri untuk memakainya. Entah mengapa, tiba-tiba teringat perkataan Laura, dia mengatakan aku tidak cantik lagi bila pakai seragam ini. Alhasil, seragam itu kini kembali teronggok di lemari bergambar hello kitty kesayanganku.
“Tolong bantu Ibu mewujudkan keinginan bapakmu, Bil. Bapak ingin sekali kamu tumbuh menjadi gadis yang sholehah ….”
Kata-kata ibu tadi pagi terngiang-ngiang di telinga. Teringat akan bapak yang meninggal sekitar empat tahun silam. Tepat sehari setelah menghadiri acara perpisahan kelulusan sekolah dasarku.
Karena berjalan sambil melamun, tanpa sadar aku mengambil jalan yang tak biasa kulalui. Ini jalan lewat belakang sekolah. Tempat biasa anak-anak bandel berkumpul. Dulu waktu masih kelas satu, aku lebih suka lewat sini, dikarenakan jalannya yang lebih dekat. Tapi, karena sering disuit-suitin sama kakak kelas, aku jadi ogah lewat sini lagi.
Kuperhatikan sekeliling, suasana tampak sepi. Kuputuskan untuk terus berjalan, toh pintu gerbang sudah dekat.
“Ehem …,” Terdengar suara seseorang entah di mana. Kakiku tetap melangkah tanpa menghiraukan.
Tiba-tiba muncul seseorang dari lorong sempit di sisi jalan. Aku menyebutnya lorong karena bentuknya seperti lorong, padahal itu adalah jarak sempit antara dua bangunan rumah yang tidak berpenghuni.
Orang itu mendekat, menyusul. Langkah kaki kupercepat. Aku tahu dia siapa, dialah Kak Bayu, kakak kelas tiga yang saban hari titip salam, tapi tak kunjung kuhiraukan.
Langkah kami kini sejajar, dia meraih tanganku, dan menarikku ke sisi bangunan yang kubilang lorong tadi. Aku panik dan mulai takut dia akan berbuat macam-macam.
“Ih, lepasin! Sakit tau!” Aku meronta, tapi pegangan tangannya malah semakin kuat. Aku meringis menahan sakit.
“Tolong!!” teriakku. Namun, dia langsung sigap membekap mulutku.
“Makanya gak usah terlalu sombong jadi cewek,” bisiknya di telingaku. Aku semakin berusaha melepaskan cengkramannya, namun sia-sia.
Dia hanya terkekeh tanpa melonggarkan genggamannya sedikitpun. Aku kesakitan, dan juga takut.
“Mau tau kenapa aku suka sama kamu?” tanyanya pelan dengan wajah yang bikin mau muntah. Ya Allah, apakah ini hukuman karena tak mendengarkan nasihat ibu?
“Karena …,” Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku berusaha berpaling, tapi bekapan tangannya membuatku sulit berpaling. Ya Allah, aku mengaku salah. Tolong jangan biarkan manusia bejat ini menodaiku.
Wajahnya semakin dekat, dan aku hanya bisa menutup mata, sembari merapal doa-doa dalam hati. Kurasakan bulir-bulir hangat mulai membasahi pipi.
“Karena, kamu seksi sekali,” katanya. Mendengar perkataannya aku menjadi benar-benar menangis, tanpa bisa menahannya. Dia membuka dekapannya dan kurasakan wajahnya semakin dekat, hingga aku bisa merasakan hembusan napasnya yang beraroma rokok.
Aku kini pasrah, walau sangat berharap akan ada seseorang yang menolongku. Mungkinkah?
Tiba-tiba, bukkkk!!!
Seketika kurasakan dekapan dan cengkramannya terlepas. Aku langsung membuka mata, dan tampak dia terhuyung di bawah, sekitar semeter dari tempatku berdiri.
Di depanku kini berdiri seorang lelaki yang aku kenal. Dia Ghifari, teman sekelasku yang dingin dan terkesan cuek. Yang sebenarnya diam-diam sering kuperhatikan. Ya Allah, kenapa dia yang menolongku? Pasti karena kejadian ini dia akan ilfeel setengah mati padaku. Namun, kendati demikian aku sangat bersyukur akan hadirnya.
“Brengs*k!!!” Kak Bayu berang, dia segera bangkit dan melayangkan tinju ke wajah Ghifari. Tapi, dengan sigap Ghifari menghindari pukulan itu, lalu dengan cepat melayangkan tinju yang keras ke perut lawannya itu.
Kak Bayu mengaduh, namun tidak membalas.
“Lihat saja nanti pembalasan dendamku pada kalian!” katanya penuh amarah, kemudian segera berlari menjauh.
Aku hanya bisa diam dan memandang takjub pada lelaki yang kini menjadi pahlawanku. Bingung harus bersikap bagaimana.
“Terima kasih,” ucapku akhirnya.
Dia tak menjawab, malah melepas jaket abu-abu yang dikenakannya.
“Nih, pakai!” Dia menyerahkannya padaku.
“Untuk apa?” tanyaku, seraya meraih jaketnya ragu.
“Kamu pura-pura bodoh atau memang sengaja? Bajumu itu pantasnya dipakai anak SD!”
Terasa hawa panas menjalar ke wajahku. Aku menunduk malu.
“Kalau kamu masih ingin dilecehkan seperti tadi dan juga ingin tubuhmu diperhatikan oleh laki-laki, pakai saja terus baju yang sangat besar ini!”
Tanpa menunggu jawaban, dia langsung berjalan meninggalkanku dengan perasaan campur aduk. Malu, lega, dan juga merasa bersalah. Namun, aku sadar ini disebabkan kesalahanku sendiri. Kini aku mengerti mengapa Ibu dan Shinta menasihati untuk mengganti seragam.
Aku memakai jaket Ghifari yang wangi permen itu. Alih-alih melanjutkan ke sekolah, aku malah berbalik arah. Pulang. Tak mau lagi mempertontonkan tubuhku pada mereka.
Balikpapan, 5 Oktober 2019