Ini adalah cerpen yang kutulis sebagai Tugas Akhir setelah mengikuti kelas menulis pemula.
By: Rustia Zafira
Mas Haris memacu sepeda motor kami dengan kecepatan sedang. Mantel hujan terpasang di tubuh kami dan kedua anak kami, si kakak di depan; adik di belakang bersamaku. Wajahku basah kuyup terkena terpaan air hujan yang cukup deras. Selalu kala hujan membuat keinginan memiliki mobil kian menggebu. Kurapalkan doa dengan lirih, semoga tabungan kami segera dicukupkan. Sudah lama aku dan Mas Haris menabung untuk membeli kendaraan roda empat impian.
Di pertigaan jalan, Mas Haris melambatkan laju motor. Hingga sampailah di depan sebuah bangunan berpagar putih, diparkirnya motor dengan hati-hati.
“Assalamu'alaikum, Aisyah dan Atha,” sambut Bunda Lisa di depan pagar sambil memayungi anak-anak kami yang baru turun dari motor.
“Wa'alaikumussalam, Bunda Lisa,” kakak Aisyah menjawab salam guru muda dan cantik itu. Sedangkan adiknya hanya diam, enggan berbicara. Aku buru-buru menggandeng Aisyah sedang Mas Haris menggendong Atha ke bagian halaman yang terlindung hujan.
Kami melepas helm dan mantel kedua buah hati kami satu-satu. Tampak seragam Aisyah sedikit basah di bagian jilbabnya.
“Mama dan Ayah berangkat ya, Sayang,” ucapku sembari berjongkok bersama Mas Haris; bersalaman dan menciumi kedua buah hati kami bergantian. Mereka balas menciumi kami dan ingin memeluk, namun tak jadi karena terhalang mantel kami yang basah. Mereka pun segera masuk ke dalam sekolah dengan menenteng tasnya masing-masing.
“Mari, Bunda Lisa,” ucapku seraya duduk di belakang Mas Haris yang kembali menyalakan motornya.
“Nggeh, Bu Azizah, Pak Harris. Hati-hati,” jawab Bunda Lisa sambil tersenyum manis sekali.
Mas Haris mengantarku menuju pusat perbelanjaan tak jauh dari sekolah anak-anak kami. Di depan gerbang masuk, Mas Haris menghentikan motornya.
“Jalannya hati-hati, kabarin kalau sudah sampai kantor,” ucapku seraya menyalami dan mencium punggung tangannya yang basah.
“Iya,” sahutnya sambil mencium keningku.
Segera kuberlari masuk ke dalam menghindari hujan yang masih belum reda. Kulepas mantel basahku sambil berjalan menuju toko pakaianku. Berjualan aneka pakaian, sudah kulakoni sejak awal-awal menikah. Awalnya hanya berjualan online hingga akhirnya bisa membuka toko di salah satu pusat perbelanjaan di tengah kota. Berkat usaha ini, aku bisa membantu Ibu—yang seorang janda—membiayai dua adikku yang masih sekolah. Menabung berdua dengan Mas Haris, akhirnya kami juga bisa mempunyai rumah sederhana yang kami tempati sekarang setelah mengontrak selama bertahun-tahun.
Saat ini impian kami adalah memiliki mobil. Aisyah dan Atha sudah cukup besar, tak leluasa rasanya jika kami berempat berpergian memakai kendaraan roda dua. Namun, kami tahu harus bersabar, karena harga sebuah mobil bukan jumlah yang sedikit.
***
“Titik, titik, dikali lima puluh sama dengan seratus lima puluh,” Aisyah mengerjakan PR Matematika di ruang keluarga.
Sementara Mas Haris dan Atha sedang asyik menyusun leggo tak jauh dari Aisyah belajar.
“Aha, aku tau jawabannya!” seru Aisyah, “jawabannya pasti tiga kan, Ma?” tanyanya padaku.
“Betul,” jawabku sambil menaruh sepiring ikan goreng dan mendoan panas di atas meja. Kemudian kuambil sebakul nasi, sambal dan juga semangkuk sayur lodeh yang kubeli di warung langganan. Melihatku mondar-mandir, Mas Haris beranjak ke dapur mengambil beberapa piring, gelas dan teko kaca berisi air minum.
Tanpa disuruh, Aisyah dan Atha juga sudah duduk melingkari meja dengan masing-masing piring di depannya.
“Ada cerita apa di sekolah hari ini?” tanya Mas Haris pada Aisyah.
“Gak ada yang spesial, semuanya biasa saja,” bocah berusia delapan tahun itu menjawab dengan centilnya. Membuatku tersenyum melihatnya.
“Kalau Adek gimana, ada yang bikin kesal gak?” Kini aku yang menanyai Atha.
“Ada.”
“Apa itu?” Aku penasaran.
Bocah kelas satu SD itu bercerita apa yang dia alami di sekolahnya. Kami mendengarkan dan memberikan tanggapan. Rutinitas di meja makan adalah yang selalu aku nantikan, kami bercengkrama dan membicarakan apa saja tentang hari itu.
Mas Haris juga bercerita mengenai sibuknya pekerjaan di kantor akhir-akhir ini.
“Gimana toko hari ini, Dek?” Kini aku yang ditanyai.
Kuceritakan keadaan toko yang agak sepi hari ini. Mas Harris hanya manggut-manggut. Tak banyak berkomentar.
“Ya, begitulah namanya jualan. Ada kalanya sepi, ada kalanya ramai,” katanya. Aku hanya mengangguk. Aku sudah tahu itu.
“Mas, Mbak Shinta beli mobil lagi, loh,” ucapku menceritakan pemilik toko sepatu yang berada tepat di sebelah toko pakaianku. Aku bergaul baik dengannya.
“Ya, Alhamdulillah,” jawab Mas Haris.
“Padahal baru tahun lalu dia beli mobil, eh tahun ini ganti lagi,” lanjutku, “kita kapan, ya?”
“Husss, jangan membanding-bandingkan hidup kita dengan orang lain, Dek.”
Aku terdiam.
“Yakin aja, Dek. Akan tiba saatnya kita juga punya mobil. Sabar aja,” lanjut Mas Haris.
***
Demi mencapai target tahun depan memiliki mobil, aku makin giat berjualan. Sebelumnya tidak aktif berjualan di media sosial, kini aku kembali aktif berjualan di semua media sosial dan marketplace yang kupunya. Setiap hari aku menyempatkan untuk berjualan live di marketplace terkenal.
Mas Haris juga mulai memutar otak mencari tambahan penghasilan. Dia mengambil beberapa proyek desain dari luar perusahaan dan mengerjakannya di waktu luang.
Tak kusangka-sangka, selama beberapa bulan rutin berjualan online, ternyata pendapatan dari media sosial dan marketplace sangat lumayan, bahkan lebih banyak dibandingkan berjualan di toko. Mas Haris juga mendapat banyak keuntungan dari proyek freelance-nya. Akhirnya, tabungan kami sudah sangat cukup untuk membeli kendaraan impian. Aku sudah tak sabar menaiki mobil baru kami. Fix, besok mobil baru akan parkir di depan rumah kami.
***
“Siap-siap. Mas otw, ” aku sedang beres-beres toko bersiap pulang ketika pesan dari Mas Haris masuk. Jam sudah menunjukkan pukul empat sore, waktunya pulang. Aku anti berada di toko hingga malam.
“Iya, hati-hati, Mas,” balasku cepat.
“Oke,” katanya lagi diakhiri emoticon cium.
Sekitar lima belas menit kemudian, aku sudah menunggu di depan. Mas Haris muncul dengan motor matic besar kesayangan kami. Lengkap dengan Aisyah di belakang dan Atha duduk di depan. Baru kali ini aku merasa bahagia sekali menaiki motor, mengalahkan rasa ingin memiliki mobil baru.
Nyatanya kami tak begitu menginginkan mobil itu. Ada hal yang lebih kami inginkan yang selama ini terlupakan. Dan tersadarkan kala kulihat selembar foto di dompet. Ibu adalah orang tua satu-satunya yang kami punya saat ini, karena kedua orang tua Mas Haris sudah lama berpulang.
Sudah lama sekali kutahu impian wanita surgaku itu. Kini usianya tak lagi muda, namun belum juga tercapai. Aku pernah bertekad untuk mewujudkannya, namun kenapa aku malah melupakannya?
Tak lama berpikir, aku dan Mas Haris langsung mengalihkan uang tabungan kami ke mimpi sebenarnya kami. Bismillah…
Balikpapan, 7 Juli 2024
No comments:
Post a Comment