Waktu menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi. Panas yang cukup menyengat tak menyurutkan semangatku menapakkan kaki saat turun dari bus antar kota. Aku sudah menahan hajat buang air kecil sejak tadi, maka hal pertama yang kulakukan setelah sampai di terminal adalah mencari toilet.
Terminal ini masih sama dengan terminal yang sering kudatangi nyaris sembilan tahun silam. Toiletnya pun juga hampir sama. Walau dalam kondisi yang tak terawat, namun masih bisa dipakai, khususnya jika keadaan darurat. Setelah menyelesaikan hajat, aku pun segera membayar tiga ribu rupiah dan pergi menuju kursi tunggu. Sangat berbeda dengan kondisi toilet terminal di kota tempatku tinggal, toiletnya bersih dan tak perlu membayar sepeserpun.
Kupesan ojek online dari gawaiku, sembari mataku menyapu sekeliling terminal yang tak berubah. Tampak seorang ibu mendekati menawarkan dagangannya. Aku hanya tersenyum sambil menolak.
Tak lama, datang seorang bapak mendekatiku.
“Mau ke mana? Ojek kah?” tanyanya.
Aku menyebutkan tempat yang menjadi tujuanku.
“Ayo ikut saya saja,” tawarnya.
“Udah pesan tadi, Pak,” sahutku tak enak.
“Nggak boleh naik ‘itu’ di sini,” katanya, “cancel aja.”
Karena tak mungkin membatalkan pesanan yang sudah di jalan, akupun akhirnya menunggu di luar terminal hingga akhirnya ojek yang kupesan tiba.
Sambil di jalan, entah mengapa aku merasa kasihan dengan bapak ojek tadi. Kudoakan beliau, semoga Allah memberinya rizki dari orang lain,.
Mataku memandang kota yang hampir tak kukenali jalannya. Dulu ini adalah kota yang senantiasa kurindukan, lima tahun berkuliah di sini, membuatku merasa nyaman. Namun, kini aku merasa asing. Tidak ada lagi rasa ‘rumah’ yang dulu kurasakan.
Sesampainya di dekanat kampus tempatku berkuliah dulu, aku pun langsung menuju meja informasi yang dijaga oleh petugas wanita.
“Bu, saya alumni yang lulus tahun 2016, transkrip nilai saya ada kesalahan huruf pada tempat lahir, di mana saya bisa mengurusnya?” tanyaku.
“Oh, silahkan ke bagian akademik, ruangangannya sebelah kanan di pintu nomor dua,” jawab petugas itu dengan ramah.
Setelah mengucapkan terima kasih, akupun langsung menuju ruangan yang dimaksud.
Didalam aku bertemu dengan petugas laki-laki. Aku menjelaskan maksud kedatanganku.
“Baik, kami buatkan surat keterangan kesalahan ya, silahkan di fotokopi ijazah dan transkripnya dulu,” jelas petugas lelaki itu.
Dengan sigap aku memfotokopi ijazah dan transkripku di koperasi kampus yang tak jauh dari gedung dekanat.
Sayang, saat kembali ke ruangan akademik bapak petugasnya tidak di tempat.
“Besok aja ya,” kata petugas yang lain. “Beliau lagi keluar,”
“Maaf, Pak. Nggak bisa hari ini, kah? Soalnya saya dari luar kota,” jawabku.
“Oh, ya sudah taruh di sini aja berkasnya, nanti dia kembali lagi,”
Sambil menunggu petugasnya kembali, aku menunggu di kursi tunggu sambil membaca buku yang kubawa. Tak lupa aku membeli beberapa cemilan di kantinnya untuk mengganjal lapar. Melihat para mahasiswa berkeliaran, akupun bernostalgia saat masih menjadi mahasiswa dulu.
Saat kulihat petugasnya tadi sudah datang, akupun langsung masuk.
“Nanti suratnya saya buatkan, di ambilnya besok ya,” katanya.
Lagi-lagi aku menjelaskan perihal aku yang datang dari luar kota. Walau cuma berjarak seratusan kilo meter, tetap saja butuh waktu dan usaha yang tidak mudah untuk ke sini lagi.
Waktuku tidak banyak yang luang dan ada keluarga dan pekerjaan yang kutinggalkan.
Mendengar jawabanku, petugas itu tampak mengerti, beliau memintaku duduk dulu sambil dia mengetikkan suratnya. Tak lama beliau pergi ke ruangan wakil dekan untuk diminta menandatangani surat keteranganku itu.
“Pak Bibit nya sedang tidak ada di ruangan, jadi tunggu dulu, ya,” katanya.
Aku tahu Pak Bibit, beliau dulu dosenku. Aku berdoa beliau tak akan lama.
Aku pun menunggu lagi. Aku sempat menghubungi dua orang teman yang tinggal di kota ini. Namun, aku tahu mereka sibuk bekerja. Ini hari Senin.
Singkat cerita akhirnya setelah beberapa kali bolak balik memastikan sudah selesai atau belum, akhirnya suratku selesai juga. Sekitar pukul setengah tiga sore. Namun, aku harus menunda pulang karena hujan yang cukup deras. Alhamdulillah, tidak sampai banjir.
Terlepas lelah yang kurasakan hari ini, aku merasa bersyukur karena urusanku bisa selesai dalam sehari. Semoga Allah memudahkan urusan orang-orang yang senantiasa memudahkan urusan orang lain. ❤
No comments:
Post a Comment