Saat ku tiba dirumah, terkejut melihat
hal yang begitu tak terduga. Halaman dipenuhi tenda-tenda berwarna biru muda,
dan dihiasi berbagai jenis bunga. Janur kuning melengkung indah pertanda akan
adanya sebuah acara.
Berdecak kagum ku melihat semuanya, dan
tanpa kusadari yayu (panggilan Mba menurut bahasa jawa) menarikku dan mengajak kedalam rumah. Seorang
wanita tua namun masih terlihat cantik menegurku
“ Inikah adik calon pengantin
perempuan?”
Ibuku datang dan menjawab pertanyaan itu
“ Bukan ini anak saya yang akan menikah dengan anak ibu, Memang terlihat lebih
kecil dbanding adiknya yang memiliki postur tubuh yang besar jadi ibu salah
orang”.
Ibu melihat kearahku dan berkata
“pergilah kekamarmu, disana sudah menunggu penata rias yang akan merias wajahmu
nak. Dan disana pula kau akan melihat calon suamimu.”
Aku sangat terkejut mengapa secepat ini aku
harus menikah. Sedagkan aku baru saja melanjutkan kuliah disemester pertama.
Perlahan ku berjalan menuju kamar, aku
sangat tak percaya orang tuaku yang dulu sangat mengekangku dalam menjalin
hubungan dengan seseorang kini tanpa sepengetahuanku menikahkanku dengan orang
yang benar- benar tak ku ketahui.
Saat melewati ruang tamu, ku mendengar
Ayah berbincang dengan pakde membicarakan uang jujuran yang dibawa oleh pihak
laki-laki, dan uang sumbangan yang begitu besar dari para keluarga maupun
sahabat ayah. Disitu ku mendengar ayah menyebutkan uang sebesar 10.000.000 dari
ibu Aminah dan suaminya yang mengaku
sangat senang bila ku segera menikah. Padahal setahuku Bu Aminah sangat tidak
suka bila ada seorang anak perempuan yang menikah sebelum dia dapat berhasil
melebihi kedua orang tua anak tersebut.
Sesampai dikamar ku melihat dua orang
laki-laki dan seorang perempuan sedang dirias. Fikirku mereka semua merupakan
anggota keluarga pihak laki-laki ternyata salah saatu laki-laki tersebut
merupakan calon suamiku dan dua orang lainnya merupakan temannya sejak kecil.
Novi merupakan nama calon suamiku dia
mengatakan sangat senang bahwa dia dapat meminangku.
Dia mengajakku berbicara tetapi ku hanya
terdiam. Yang ada difiranku yaitu bagaimana dengan kuliahku, bagaimana dengan
orang yang kusukai akankah ku harus menikah dengan orang yang benar-benar tak
ku kenal dan tak kusukai, bagaimana dengan kedua orang tuaku dimana cita- cita
mereka sejak dulu yang sangat mereka banggakan untuk dapat mengkuliahiku sampai
selesai, karena setelah menikah pastinya ku tak dapat melanjutkan kuliah
disemester berikutnya karena menjadi seorang ibu rumah tangga.
Aku sangat kecewa, sedih, marah semua bercampur
menjadi satu.
Fitri teman Novi berbisik padaku
“ kamu sangat beruntung mendapatkan novi
dia seorang yang ramah, pekerja keras dan kaya. Bisa kamu bayangkan susah
mendapatkan orang seperti dia yang bekerja disebuah perusahaan timah yang
memiliki gaji 2 kali lipat dibanding perusahaan tambang lainya.”
Aku menangis dan itu dikira novi karena
aku sedih meninggalkan kedua orang tuaku padahal ku menangis karena semua ini
merupakan mimpi buruk bagiku.
Tamu- tamu undangan datang pada waktunya
sebuah akad nikah sudah disenandungkan. Ku berdua dengan novi dikamar rias
mengganti pakaian dengan pakaian pengantin lainnya berwarna kuning keemasan.
Saat tiba waktunya untuk kepelaminan, ku melihat novi bergetar wajahnya sangat
pucat.
Timbul rasa ibaku ku datangi dia dan ku memeluknya. Dia tersenyum padaku
sambil berkata, “ Ku kira setelah kau menjadi istriku kau akan tetap tak peduli
padaku karena kau tak mencintaiku. Mengapa kau bisa berubah secepat ini?”
“Kau sekarang telah sah menjadi suamiku,
setelah kau melafazkan akad nikah. Ku iba padamu setelah ku melihatmu bergetar.
Kau tak bisa menyembunyikannya.. bila ku membiarkanmu maka aku akan menjadi
istri yang durhaka tidak menenangkanmu disaat kau benar-benar memerlukanku.
Semua telah berlalu, walaupun ku sangat kecewa tapi semua tak bisa kembali
sepeti dulu lagi, maka biarkanlah aku saat ini menjadi istri yang berbakti
padamu walapun sekarang ku hanya bisa memelukmu menghilangkan gemetarmu.”
Selang beberpa waktu, aku hamil 3 bulan.
Mertuaku sangat sayang padaku dan ku tak boleh keluar rumah selama suamiku
pergi bekerja.
Setiap minggunya selalu ada kiriman
vitamin, susu, dari mertua sepertinya mereka sangat senang karena kehamilanku
ini.
Tapi keadaan di rumah sekarang berbeda,
suamiku terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Sehingga ku sering sendirian dirumah
karena dia harus lembur bekerja.
Dia tak pernah terlihat tersenyum bahkan
tak pernah menanyakan keadaanku. Seperti menganggapku tak ada.
Saat dia tertidur kumendengar dia menggigau dan mengatakan
“ Istriku hamil, bisakah ku akan
menemaninya saat dia melahirkan. Sedangkan ku sibuk dengan urusanku dan tanpa
sepengetauhannya ku telah menjalin hungan dengan wanita lain”
Ku menamgis mendengarnya, dia terbangun
terdiam melihatku. Mengambil selimut dan menyelimutiku dan pindah tidur di
sofa.
Apakah dia tak mengerti bagaimana cara
membuat diam seorang perempuan menangis? Apakah dia sama sekali tak mengerti
perasaanku? Dan apakah dia sampai saat ini masih bersamaku karena aku
mengandung anaknya?
Dalam tidurku ku teringat saat-saat dulu
saat dimana ku merasa kecewa dan terus kecewa dengan keadaan yang benar-benar
tak ku banyangkan sebelumnya.
Keadaan yang tak ku harapkan, ku ingin
seperti dulu yang masih bersama orang tua dan adikku, yang masih merasakan
bangku kuliah bersama teman-teman baikku.
Tuhan bila waktu dapat berputar maka ku
ingin kembali kemasa lampau ku akan serius untuk kuliah hingga orang tuaku tak
ragu akan keseriusanku untukk kuliah
hingga tak menikahkanku dengan laki-laki yang tak kusukai.
Tiba- tiba, terbangun ku merasakan getar Hp. Hahh!!!
Ternyata ini hanya mimpi bersyukur ku dalam hati bahwa semua yang ku rasa tadi
hanya sebuah mimpi
By. Latifah (Fkip Bhs.Indo Universitas Mulawarman, my roommate :) )
No comments:
Post a Comment