Thursday, February 21, 2013

Mimpi Burukku


Saat ku tiba dirumah, terkejut melihat hal yang begitu tak terduga. Halaman dipenuhi tenda-tenda berwarna biru muda, dan dihiasi berbagai jenis bunga. Janur kuning melengkung indah pertanda akan adanya sebuah acara.

Berdecak kagum ku melihat semuanya, dan tanpa kusadari yayu (panggilan Mba menurut bahasa jawa)  menarikku dan mengajak kedalam rumah. Seorang wanita tua namun masih terlihat cantik menegurku

“ Inikah adik calon pengantin perempuan?”

Ibuku datang dan menjawab pertanyaan itu “ Bukan ini anak saya yang akan menikah dengan anak ibu, Memang terlihat lebih kecil dbanding adiknya yang memiliki postur tubuh yang besar jadi ibu salah orang”.

Ibu melihat kearahku dan berkata “pergilah kekamarmu, disana sudah menunggu penata rias yang akan merias wajahmu nak. Dan disana pula kau akan melihat calon suamimu.”

Aku sangat terkejut mengapa secepat ini aku harus menikah. Sedagkan aku baru saja melanjutkan kuliah disemester pertama.

Perlahan ku berjalan menuju kamar, aku sangat tak percaya orang tuaku yang dulu sangat mengekangku dalam menjalin hubungan dengan seseorang kini tanpa sepengetahuanku menikahkanku dengan orang yang benar- benar tak ku ketahui.

Saat melewati ruang tamu, ku mendengar Ayah berbincang dengan pakde membicarakan uang jujuran yang dibawa oleh pihak laki-laki, dan uang sumbangan yang begitu besar dari para keluarga maupun sahabat ayah. Disitu ku mendengar ayah menyebutkan uang sebesar 10.000.000 dari ibu Aminah dan suaminya yang mengaku sangat senang bila ku segera menikah. Padahal setahuku Bu Aminah sangat tidak suka bila ada seorang anak perempuan yang menikah sebelum dia dapat berhasil melebihi kedua orang tua anak tersebut.

Sesampai dikamar ku melihat dua orang laki-laki dan seorang perempuan sedang dirias. Fikirku mereka semua merupakan anggota keluarga pihak laki-laki ternyata salah saatu laki-laki tersebut merupakan calon suamiku dan dua orang lainnya merupakan temannya sejak kecil.

Novi merupakan nama calon suamiku dia mengatakan sangat senang bahwa dia dapat meminangku.
Dia mengajakku berbicara tetapi ku hanya terdiam. Yang ada difiranku yaitu bagaimana dengan kuliahku, bagaimana dengan orang yang kusukai akankah ku harus menikah dengan orang yang benar-benar tak ku kenal dan tak kusukai, bagaimana dengan kedua orang tuaku dimana cita- cita mereka sejak dulu yang sangat mereka banggakan untuk dapat mengkuliahiku sampai selesai, karena setelah menikah pastinya ku tak dapat melanjutkan kuliah disemester berikutnya karena menjadi seorang ibu rumah tangga.

Aku sangat kecewa, sedih, marah semua bercampur menjadi satu.

Fitri teman Novi berbisik padaku
“ kamu sangat beruntung mendapatkan novi dia seorang yang ramah, pekerja keras dan kaya. Bisa kamu bayangkan susah mendapatkan orang seperti dia yang bekerja disebuah perusahaan timah yang memiliki gaji 2 kali lipat dibanding perusahaan tambang lainya.”

Aku menangis dan itu dikira novi karena aku sedih meninggalkan kedua orang tuaku padahal ku menangis karena semua ini merupakan mimpi buruk bagiku.

Tamu- tamu undangan datang pada waktunya sebuah akad nikah sudah disenandungkan. Ku berdua dengan novi dikamar rias mengganti pakaian dengan pakaian pengantin lainnya berwarna kuning keemasan. Saat tiba waktunya untuk kepelaminan, ku melihat novi bergetar wajahnya sangat pucat. 

Timbul rasa ibaku ku datangi dia dan ku memeluknya. Dia tersenyum padaku sambil berkata, “ Ku kira setelah kau menjadi istriku kau akan tetap tak peduli padaku karena kau tak mencintaiku. Mengapa kau bisa berubah secepat ini?”
“Kau sekarang telah sah menjadi suamiku, setelah kau melafazkan akad nikah. Ku iba padamu setelah ku melihatmu bergetar. Kau tak bisa menyembunyikannya.. bila ku membiarkanmu maka aku akan menjadi istri yang durhaka tidak menenangkanmu disaat kau benar-benar memerlukanku. Semua telah berlalu, walaupun ku sangat kecewa tapi semua tak bisa kembali sepeti dulu lagi, maka biarkanlah aku saat ini menjadi istri yang berbakti padamu walapun sekarang ku hanya bisa memelukmu menghilangkan gemetarmu.”

Selang beberpa waktu, aku hamil 3 bulan. Mertuaku sangat sayang padaku dan ku tak boleh keluar rumah selama suamiku pergi bekerja.
Setiap minggunya selalu ada kiriman vitamin, susu, dari mertua sepertinya mereka sangat senang karena kehamilanku ini.
Tapi keadaan di rumah sekarang berbeda, suamiku terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Sehingga ku sering sendirian dirumah karena dia harus lembur bekerja.
Dia tak pernah terlihat tersenyum bahkan tak pernah menanyakan keadaanku. Seperti menganggapku tak ada.

Saat dia tertidur  kumendengar dia menggigau dan mengatakan
“ Istriku hamil, bisakah ku akan menemaninya saat dia melahirkan. Sedangkan ku sibuk dengan urusanku dan tanpa sepengetauhannya ku telah menjalin hungan dengan wanita lain”
Ku menamgis mendengarnya, dia terbangun terdiam melihatku. Mengambil selimut dan menyelimutiku dan pindah tidur di sofa.
Apakah dia tak mengerti bagaimana cara membuat diam seorang perempuan menangis? Apakah dia sama sekali tak mengerti perasaanku? Dan apakah dia sampai saat ini masih bersamaku karena aku mengandung anaknya?

Dalam tidurku ku teringat saat-saat dulu saat dimana ku merasa kecewa dan terus kecewa dengan keadaan yang benar-benar tak ku banyangkan sebelumnya.
Keadaan yang tak ku harapkan, ku ingin seperti dulu yang masih bersama orang tua dan adikku, yang masih merasakan bangku kuliah bersama teman-teman baikku.
Tuhan bila waktu dapat berputar maka ku ingin kembali kemasa lampau ku akan serius untuk kuliah hingga orang tuaku tak ragu akan keseriusanku  untukk kuliah hingga tak menikahkanku dengan laki-laki yang tak kusukai.

Tiba- tiba, terbangun ku merasakan getar Hp. Hahh!!! Ternyata ini hanya mimpi bersyukur ku dalam hati bahwa semua yang ku rasa tadi hanya sebuah mimpi 

By. Latifah (Fkip Bhs.Indo Universitas Mulawarman, my roommate :)  )

No comments:

Post a Comment