Saturday, December 31, 2022

Catatan Akhir Tahun

Awal tahun dilanda dilema, tak tau harus memulai dari mana. Karena beberapa hari tak bergelut dengan dunia kerja. Namun, kenyataannya liburan sudah usai dan amanah sudah menanti. 

Liburan akhir tahun ini, aku memang tak menikmati liburan, dikarenakan waktunya yang  qodarullah berpapasan dengan mama yang sedang sakit. Alhasil sebagian besar waktuku dihabiskan di rumah sakit. Namun, ini bukan masalah karena kutahu, pasti ada hikmah dibalik semua ini. At least, aku bersyukur, karena liburan sekolah membuat kami bisa fokus menemani mama di rumah sakit, khususnya Nana, adikku yang waktunya lebih banyak digunakan untuk merawat mama di RS dibanding aku yang juga harus mengurus anak-anak serta suami di rumah.

Well... 2023...
Apa yang akan terjadi didepan sana?
We'll see. 
Begitu banyak harapan tertanam. But, I don't know how to start it. 
And now, kupikir sebelum mengira-ngira segala kemungkinan di tahun 2023. Sebaiknya, aku kembali merangkum apa yang kudapatkan di tahun 2022. 

2022 yang amat singkat. 

Satu hal yang kutahu adalah aku mulai mengenal emosi dalam diriku. Bagiku mengenali emosi diri sendiri adalah sesuatu yang penting. Terkadang kita begitu tega dengan diri sendiri, merasa mampu namun ternyata menyiksa diri sendiri. Aku yang awalnya suka mengabaikan perasaan diri sendiri, kini perlahan-lahan mencoba merenungi segala yang kurasakan. Jangan pernah abaikan saat dirimu mulai lelah dan butuh energi. Jangan kau paksa dirimu sendiri ditengah kerumitan yang kau hadapi. Ketika kau merasa butuh ketenangan. Menepilah sejenak walau hanya beberapa saat. 

Pelajaran selanjutnya adalah seni memimpin diri sendiri. How can you manage a team if you can't manage yourself? 
Sejatinya kita semua adalah pemimpin. Dan unit terkecil yang harus kita pimpin adalah diri sendiri. 
Satu hal yang selalu kutanamkan. Aku harus bisa mengatur diri sendiri, melawan segala keinginan menunda ibadah dan pekerjaan, mencoba membuat to do list setiap hari, memastikan tidak membuang-buang waktu untuk hal yang unfaedah, membuat target, dan lain-lain. 

Next, jangan menomor duakan keluarga. 
Sesibuk bagaimanapun aku dalam urusan pekerjaan. Tetap keluarga tidak boleh terabaikan. Anak-anakku yang masih balita berhak mendapatkan kasih sayang yang utuh. Setiap malam sempatkan waktu untuk  makan bersama keluarga dan membacakan anak-anak buku cerita. Setiap pagi sempatkan membuat sarapan dan bekal untuk suami. Saat siang hari, sempatkan bertukar kabar dengan suami walau hanya sekedar lewat pesan Whatsapp. 

Dan pelajaran selanjutnya yang tak kalah penting adalah... I am a model. 
Aku adalah teladan untuk anak-anakku. Aku juga teladan untuk murid-muridku di sekolah. Ketika aku berharap lebih kepada mereka semua. Aku juga harus bisa berbuat lebih. Bagaimana mungkin seorang guru menyuruh murid-muridnya untuk  sholat sunnah sebelum dan setelah sholat dzuhur, sedangkan guru itu sendiri tidak melaksanakannya?  

The last but not the least.... Jangan remehkan kekuatan sebuah doa.
Jangan pernah merasa putus asa. Kau punya senjata ampuh yang bernama doa. Bagiku doa memberikan sensasi tersendiri. Tahun 2022 aku beberapa kali mengalami situasi yang tidak gampang. Dimana lagi tempatku menumpahkan segala rasa, kalau bukan pada  Allah. Aku memang bukan orang yang terbiasa curhat pada orang lain (kecuali  pada suami). Dan ketika kuberdoa pada Allah menumpahkan segala gelisah dan harapan, meminta jalan terbaik, memasrahkan masalahku pada Dia Sang Maha Pengatur kehidupan.  Then, I feel the sensation. 

No comments:

Post a Comment